Cerpen: Anisa dan Kisahnya - SMPN 12 Lhokseumawe

Breaking

Monday, January 18, 2021

Cerpen: Anisa dan Kisahnya

 


Anisa dan Kisahnya

Bel tanda masuk usai istirahat baru saja berbunyi. Aku masih asyik menikmati es campur buk Ning di kantin belakang sekolah. Hmm,..cepet amat sih bel masuk berbunyi, gumamku dalam hati. Es campur super enak menurutku ini masih tersisa setengah gelas. Sayang kalau dibuang. Mana mulut masih terasa pedas setelah menikmati semangkok bakso bang Ucok. Seharusnya jam istirahat ditambah 10 menit lagi, kalau hanya 20 menit aku tidak sempat memakan ini dan itu. Mudah-mudahan sekolah berbaik hati menambah jam istirahat menjadi 30 menit, harapku dalam hati.

“Cepat May,..udah bel tuh,” ucap Nadia sambil menyenggol tanganku.

“Iya, duluan aja sana,” kataku tak peduli sambil terus meminum es campur.

“Ayoook, ntar kita dimarahi bu Nurul loh,” Nadia menarik tanganku dengan paksa.

Terpaksa kutinggalkan es campurku yang masih tersisa seperempat gelas lagi. Kami  berjalan setengah berlari menuju kelas.

Sesampainya di kelas teman-teman terlihat masih berdiri di luar, tandanya bu Nurul yang selalu on time itu belum masuk. Aku segera masuk kelas lalu duduk di kursiku. Anisa, satu-satunya siswa yang sudah berada di dalam kelas terlihat sedang asyik membaca buku. Selalu begitu. Anisa tidak pernah keluar ketika bel tanda istirahat berbunyi. Dia selalu berada di kelas. Kalau tidak membaca ya menulis. Entah apa yang dibaca atau di tulisnya setiap hari.

Aku berjalan mendekati tempat Anisa duduk, penasaran ingin melihat buku apa yang dibacanya.

“Kamu sedang baca buku apa, Nis?” tegurku. Anisa mengangkat kepalanya dan menoleh ke arahku.

“Lagi baca buku cerita nih,” jawab Anita sambil memperlihatkan sampul buku yang dibacanya.

“Balada Hati Seorang Gadis,” eja ku keras. “Ciiee,…balada nih yee, lagi jatuh cinta ya Nis?” tanyaku sambil tersenyum menggodanya.

“Memangnya kalau suka baca novel lagi jatuh cinta ya May?” Anisa balik bertanya. 

“Biasanya sih begitu. Kata orang-orang siihhh,” jawab ku asal-asalan.

“Ah kamu ada-ada aja. Memang hobbi aku membaca ya apa saja aku baca.” kata Anisa.

“Aku perhatikan dari dulu kamu selalu membaca di kelas pada saat jam istirahat. Kalau tidak ada di kelas kamu pasti ada di perpustakaan. Kamu bisa mendapat julukan kutu buku Nis,” ujarku lagi.

“Biar saja aku mendapat julukan kutu buku asal jangan kutu kucing,” Anisa berkata sambil tertawa. Aku pun turut tertawa mendengar ucapannya. Tiba-tiba semua teman kelasku masuk pertanda bu Nurul sedang berjalan menuju kelasku.

“Assalamualaikum warahmatullahiwabarakaatuh,” ucap bu Nurul sambil masuk ke dalam kelas.

“Waalaikumsalam warahmatullahiwabarakaatuh,” kami menjawab dengan serempak.

“Selamat siang anak-anak, sudah pada jajan semua kan,” Tanya bu Nurul membuka pelajaran.

“Sudah, buuu.”

“Baiklah, berarti semuanya sudah bisa konsentrasi ke materi yang akan segera kita pelajari selama dua jam pelajaran ke depan. Coba keluarkan buku IPS, atlas dan peralatan tulis lainnya,” ucap bu Nurul lagi.

“Kali ini kita akan mempelajari tentang kemajuan teknologi negara-negara di dunia. Dan tujuan pembelajaran kita hari ini adalah di akhir pembelajaran nanti diharapkan kalian bisa menyebutkan contoh negara-negara maju  serta menjelaskan tentang keadaan negara tersebut, keadaan alamnya, sumber daya alamnya, kehidupan sosial budayanya juga bagaimana hubungan negara tersebut dengan negara kita, Indonesia.”

“Siapa yang bisa menyebutkan contoh negara maju?” Tanya bu Nurul.

“Amerika Serikat, bu,” jawab Anisa.

“Bagus, Anisa. Negara apa lagi?”

“Jerman, Jepang, Inggris dan Perancis, bu,” jawab Mursalin dari belakang.

“Ya, benar semuanya. Itu adalah contoh Negara-negara maju di dunia dan masih banyak lagi negara-negara maju lainnya. Negara-negara di dunia dapat dikelompokkan menjadi Negara maju (developed countries), Negara berkembang (developing countries), dan Negara miskin (less developed countries). Kelompok Negara-negara maju seringkali diidentikkan dengan negara yang perkembangan ekonomi dan teknologinya sangat pesat. Namun sebenarnya aspek social budaya juga menunjukkan perbedaan dengan kelompok negara yang belum maju.” Bu Nurul menjelaskan dengan penuh semangat.

“Sekarang kita akan fokuskan membahas tentang salah satu negara maju yaitu Jepang. Apa yang kamu ketahui tentang negara Jepang?” lanjut bu Nurul

“Jepang adalah salah satu negara yang pernah menjajah bangsa kita, bu,” jawab Munir dari pojok depan sebelah kanan.

“Iya, benar Munir. Namun kali ini kita akan membahas tentang Jepang sebagai salah satu negara industri yang produknya merambah ke berbagai belahan dunia. Setiap hari kita pasti melihat kenderaan bermotor produksi Jepang lalu lalang di jalan-jalan kita sampai ke pelosok negeri.”

“Siapa tahu, dimanakah negara ini berada?” bu Nurul kembali mengajukan pertanyaan.

“Jepang terletak di barat laut Samudra Pasifik. Jepang berbatasan di sebelah barat dengan Korea Utara dan Korea Selatan, Rusia dan China. Di sebelah utara, timur dan selatannya berbatasam dengan Samudra Pasifik,” jawab sebuah suara. Aku segera menolehkan kepala ke asal suara, dan ternyata Anisa yang menjawab pertanyaan bu Nurul barusan. Aku terpaku sekaligus kagum dengan jawabannya. Aku memang sering mendengar tentang Negara Jepang tetapi tidak tahu sama sekali bagaimana letak Negara Jepang secara geografis.

“Ya, tepat sekali Anisa. Lokasi wilayah Jepang membuat Jepang memiliki ciri iklim musim dengan perubahan musim yang jelas. Pada musim dingin, suhu udara antara -7° C sampai dengan 7° C. Pada musim panas, suhu udara antara 21° - 27° C. Curah hujan di Jepang umumnya tinggi, berkisar antara 840 – 3.050 mm per tahun.” Ujar bu Nurul sambil menunjukkan peta negara Jepang.

Semua siswa memperhatikan penjelasan yang disampaikan bu Nurul. Sebenarnya aku tidak begitu suka dengan pelajaran IPS, tapi karena bu Nurul menyampaikan pelajaran dengan cara yang menyenangkan akhirnya lama kelamaan aku jadi suka dengan pelajaran ini. Awalnya aku beranggapan bahwa pelajaran IPS adalah pelajaran yang membosankan, penuh hafalan dan kurang menantang. Beda dengan pelajaran matematika atau fisika. Aku lebih senang dengan kedua pelajaran ini karena aku suka pelajaran berhitung, tidak membosankan dan tidak membuat ngantuk. Tapi herannya dengan bu Nurul aku jadi tidak bosan, mungkin karena beliau sering mempergunakan media dan alat peraga sehingga pembelajaran berlangsung dengan menyenangkan. Beliau juga sering mengajukan pertanyaan kepada siswa, dan apabila jawaban siswa salah beliau tidak pernah mempermalukan siswa tersebut, beliau selalu mengatakan hampir benar padahal jelas-jelas jawaban tersebut salah. Itulah sebabnya mengapa bu Nurul sangat disenangi siswa karena beliau berbicara dengan santun kepada semua siswa dan tidak pernah berkata kasar meski sedang kesal sekalipun.

“Negara Jepang terdiri dari empat pulau besar. Tahukah kalian nama keempat pulau tersebut?” pertanyaan bu Nurul membuyarkan lamunanku. Terlihat dari sudut mataku Anisa tiba-tiba mengacungkan tangan.

“Pulau Hokkaido, Honshu, Kyushu dan Shikoku.” Jawabnya.

“Tepat sekali Anisa. Ayo yang lain mana suaranya? Sepertinya hanya Anisa yang menjawab ya? Yang lain jangan mau kalah, semuanya harus berani menjawab pertanyaan ibu,” Bu Nurul memberi semangat.

“Nah kali ini ibu ingin memberikan satu lagi pertanyaan, ibu harap bukan Anisa lagi yang menjawab tetapi yang lain, oke?” Para siswa berpandangan satu sama lain, berharap bisa menjawab pertanyaan terakhir dari bu Nurul.

“Siapa diantara kalian yang bisa menjelaskan tentang keadaan sosial budaya Negara Jepang?”

Tidak terlihat ada yang mengacungkan tangan pertanda akan menjawab pertanyaan. Semua terdiam dan menunggu. Anisa terlihat juga hanya diam, mungkin karena dia ingin member kesempatan pada yang lain untuk menjawab.

“Gimana, tidak ada yang tahu? Kamu bagaimana Mayang? Mungkin kamu tahu jawabannya? Jangan malu-malu oke, kalau salah kita perbaiki bersama.”

Aku tersentak mendengar namaku disebut bu Nurul. Tapi aku memang tidak tahu jawabannya. Aku gelisah sambil melihat ke kanan dan ke kiri, barangkali ada yang bisa membantu. Namun kemudian bu Nurul menyebutkan nama siswa yang lain untuk menjawab pertanyaan beliau. Disinilah satu lagi kehebatan bu Nurul, beliau tidak pernah memaksa jawaban pada satu orang siswa, bila dilihatnya siswa tersebut tidak bisa menjawab maka langsung dialihkan kepada siswa yang lain tanpa mempermalukan siswa yang tidak bisa menjawab tadi.

“Hmm, baiklah, mungkin Anisa bisa membantu menjawab?” akhirnya bu Nurul melemparkan pertanyaan tersebut kepada Anisa. Anisa terlihat tersenyum tipis sambil mengangguk.

“Sebagaian besar penduduk Jepang bekerja di luar sektor pertanian, oleh karena itu 91% penduduknya tinggal di daerah perkotaan. Penduduk Jepang terdiri dari beberapa etnik, tetapi yang dominan adalah etnik Jepang, Korea dan China. Agama yang dianutnya terdiri dari agama Shinto, Buddha dan Kristen. Bangsa Jepang sangat terkenal sebagai bangsa pekerja keras dan disiplin. Tidak heran jika kualitas hasil kerjanya diakui sangat tinggi.  Karena itulah, mereka menjadi negara terkemuka dalam bidang industri dan perdagangan walaupun sumber daya alamnya terbatas.” Anisa menjawab dengan sangat lancar.

“Luar biasa Anisa. Kamu menjawab dengan sangat lengkap. Pasti karena kamu suka membaca maka kamu bisa menjawab pertanyaan ibu dengan mudah. Ayo yang lain jangan mau ketinggalan. Semua harus rajin membaca karena dengan banyak membaca kita bisa mendapatkan banyak pengetahuan.”

Tidak terasa lonceng pergantian jam berbunyi, menandakan bu Nurul harus segera menyelasaikan aktivitas mengajarnya di kelas kami. Aku berjalan mendekati Anisa yang sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.

“Aku salut sama kamu, Nis. Kamu selalu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh bu Nurul. Bagaimana caranya, Nis?” aku bertanya tanpa malu-malu.

“Ah, biasa aja May. Kebetulan aku kemarin baru pinjam buku dari perpustakaan, judulnya “Mengenal Dunia”, dan kebetulan semalam aku mebaca yang bagian tentang Negara Jepang. Jadi masih teringat deh,” jawab Anisa merendah.  Anisa memang selalu begitu, tidak pernah menyombongkan diri meski dia bisa. Setiap teman yang datang meminta pertolongannya untuk menjelaskan materi pelajaran yang sulit, dia selalu bersedia membantunya. Tak heran jika banyak yang suka berteman dengannya meskipun ada juga satu dua yang tidak menyukainya tanpa alasan yang jelas. Aku pribadi tidak pernah milih-milih dalam berteman, kaya miskin bagiku sama saja karena bundaku pernah berkata bahwa kita tidak boleh memilih-milih teman dalam bergaul, karena di mata Allah semua manusia itu sama, yang membedakannya cuma amal ibadahnya saja.

Keesokan harinya ketika jam istirahat telah berbunyi, aku mengajak Anisa ke kantin.

“Nis, ke kantin yok, jajan. Apa kamu tidak lapar dan bosan asyik membaca buku terus?” Ajakku sekaligus bertanya pada Anisa yang terlihat sedang bersiap-siap untuk membaca sebuah buku.

“Kamu duluan aja deh May, aku masih ingin membaca buku ini. Aku penasaran kisah akhirnya bagaimana,” elak Anisa.

“Baiklah, kalau begitu aku ke kantin dulu ya,” pamitku. Anisa hanya menganggukkan kepalanya.

Ketika bel pulang sekolah berbunyi, aku segera keluar kelas. Perutku terasa keroncongan minta diisi, padahal tadi ketika jam istirahat aku sudah makan semangkuk mi ayam plus segelas es cincau.

Saat melewati kantor dewan guru, tak sengaja aku melihat Anisa masuk kedalam kantor tersebut. Penasaran aku mengikutinya karena setahuku Anisa bukan sekretaris kelas yang punya kewajiban mengantarkan absen setelah usai sekolah, dan sepertinya juga Anisa tidak sedang bermasalah sehingga dipanggil ke kantor dewan guru. Di ambang pintu aku terkejut ketika melihat Anisa minta ijin kepada salah seorang guru untuk mengambil air minum dari dispenser. Dia mengisi botol minumnya dengan air tersebut lalu meminumnya. Aku segera menghindar takut Anisa melihat kehadiranku di situ. Aku tidak ingin membuatnya malu. Aku bertanya-tanya mengapa Anisa meminta air minum ke ruang guru. Hmm,… pasti karena dia haus dan tidak punya uang untuk membeli minuman, jawabku sendiri dalam hati. Dadaku terasa sesak memikirkan kemungkinan tersebut. Mungkinkah Anisa tidak punya uang jajan? Jangan-jangan kebiasaannya berada di kelas atau ke perpustakaan setiap jam istirahat dikarenakan dia tidak punya uang untuk jajan? Mengapa Anisa tidak punya uang jajan? Mengapa orang tuanya tidak memberikan uang jajan untuk Anisa? Pertanyaan demi pertanyaan berseliweran dalam otakku. Aku penasaran. Aku ingin tahu apa yang terjadi pada Anisa. Aku ingin tahu keadaan keluarganya. Boleh tidak ya aku main ke rumahnya, tanyaku dalam hati.

“Nis, aku main ke rumah kamu boleh?” cegatku ketika dia melintas di depanku.

Anisa tentu saja terkejut. Dia menatapku sesaat sambil mengerutkan dahi.

“Untuk apa?” tanyanya.

“Tidak untuk apa-apa, aku kepengen saja main ke rumahmu. Aku kan belum pernah main ke rumahmu. Aku pengen melihat koleksi buku-buku bacaanmu,” jawabku asal-asalan.

“Wah, aku tidak punya koleksi buku-buku bacaan, Mayang. Semua buku yang aku baca adalah pinjaman dari perpustakaan yang harus segera aku kembalikan setelah masa peminjamannya selesai,” ujar Mayang sambil tersenyum.

“Ah pokoknya aku kepingin main ke rumahmu. Boleh kan, Nis?” desakku.

Anisa berfikir sesaat, lantas  menjawab, “Baiklah, tapi kamu jangen kaget ya melihat kondisi rumahku yang jelek dan berantakan.”  Aku mengangguk mengiyakan lalu kami segera berjalan menuju rumahnya.

Setelah melewati beberapa pengkolan akhirnya kami tiba di rumah Anisa.

“Nah, kita sudah sampai. Ini rumahku May. Masuk yuk,” ajak Anisa.

Aku terkejut melihat kondisi rumah Anisa. Rumahnya sangat kecil, dindingnya hanya dari anyaman bambu dan atapnya terbuat dari daun rumbia. Aku berdiri di depan pintu rumahnya, tak kuasa menahan rasa terkejutku.

“Kan aku sudah bilang tadi May, jangan kaget melihat kondisi rumahku.”

Aku tersenyum tipis mendengar ucapan Anisa. Lantas aku segera masuk ke rumahnya mengikuti Anisa yang sudah duluan masuk. Sesampainya di dalam aku lebih terkejut lagi melihat kondisi di dalam rumahnya. Lantai rumahnya hanya terbuat dari tanah, belum di semen apalgi di keramik. Lantainya hanya ditutupi oleh selembar karpet usang yang sudah koyak di sana sini. Anisa menunduk memunguti beberapa pakaian seragam sekolah yang berserakan di lantai.

“Sori ya May. Rumahku berantakan begini. Maklum adikku ada empat dan mereka suka sembarangan meletakkan baju seragamnya sepulang dari sekolah,” Anisa menjelaskan dengan wajah malu.

“Ah gak apa-apa kok Nis. Aku maklum,” sahutku berusaha agar Anisa tidak malu.

“Kamu duduk dulu ya, aku ambilkan air minum.”

“Gak usah repot-repot Nis.”

“Ah, Cuma air putih doang kok. Yang lain juga gak ada,” Anisa lantas menghilang ke dapur.

Aku duduk di atas kursi plastik satu-satunya yang ada di ruangan itu. Mataku melihat ke sekeliling ruangan. Tidak ada barang mewah satupun yang kulihat ada di situ. Jangankan televisi, kursi tamu saja tak ada. Aku terenyuh melihat kondisi rumah Anisa.

“Minum dulu, May.” Anisa datang membuyarkan lamunanku.

“Aku masak dulu ya May. Adik-adikku pasti sudah lapar.” Kata Anisa perlahan. Aku kaget mendengar perkataannya.

“Kamu masak dulu sepulang dari sekolah, Nis? Setiap hari seperti itu?” tanyaku tak sabar.

“Iya, May. Kalau kamu pasti sepulang sekolah langsung makan ya?” Tanya Anisa sambil tersenyum. Tak terlihat kesedihan di wajahnya. Anisa lantas segera terjun ke dapur, memasak nasi dan mempersiapkan lauk ala kadarnya. Aku hanya duduk memperhatikan pekerjaannya tanpa tahu harus berbuat apa.

“Ibu kamu kemana Nis?” tanyaku memberanikan diri. Mendengar pertanyaanku Anisa lantas menghentikan pekerjaannya yang sedang mengiris bawang merah untuk dicampurkan ke dalam kocokan telur dadar.

“Ibuku sudah pulang ke kampungnya, May. Aku tidak tahu mengapa, tapi aku merasa ada sesuatu yang terjadi antara ibu dan ayah. Mereka tidak pernah bercerita dan akupun tidak pernah bertanya,” sahut Anisa perlahan. Aku menganggukkan kepala seakan mengerti. Betapa rumit persoalan orang tua, pikirku.

“Jadi kamu sendirian mengurus adik-adikmu, Nis?” tanyaku lagi.

“Iya, May. Ayahku pergi kerja dari subuh tadi dan baru pulang menjelang magrib. Abangku, Ricki  sekitar jam tiga siang nanti baru pulang dari sekolah.” Anisa menjelaskan. Aku termangu mendengar penjelasannya. Betapa beruntungnya diriku, bisikku dalam hati. Bangun pagi langsung mandi, sarapan lantas berangkat sekolah setelah sebelumnya minta uang jajan dulu. Tapi Anisa? Bangun pagi dia langsung ke dapur menyiapkan sarapan untuk adik-adik dan ayahnya, mencuci pakaian dan piring kotor baru berangkat ke sekolah. Tapi aku tidak pernah melihat dia terlambat tiba di sekolah.

“Kamu bangun paginya cepat ya Nis?” tanyaku tiba-tiba.

“Iya dong, kalau tidak aku tidak sempat sarapan pagi. Kalau tidak sarapan bisa-bisa aku kelaparan karena aku tidak bawa uang jajan ke sekolah,” sahut Anisa.

“Lho, kamu tidak diberikan uang jajan oleh ayahmu?” tanyaku lagi. Anisa hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Ayah memberikan uang jajan hanya cukup untuk adik-adikku saja, May. Dan aku mengerti uang ayah terbatas, penghasilannya sebgai buruh bangunan tidak banyak, hanya cukup untuk makan kami sehari-hari, maka aku tidak menuntut ayah untuk memberikan aku uang jajan. Yang penting adik-adik ada uang jajannya saja sudah cukup,” pungkas Anisa.

Hatiku tercekat mendengar perkataan Anisa. Lagi-lagi aku merasa bersyukur dalam hati. Aku tidak pernah kekurangan uang jajan.

“Itulah sebabnya aku tidak keluar kelas ketika jam istirahat, May. Aku tidak punya uang jajan, jadi yah aku membaca saja di kelas atau di perpustakaan,” ucap Anisa sambil tersenyum malu. Aku termangu mendengar uacapan Anisa. Betapa aku selama ini tidak tahu bersyukur. Aku selalu mengomel dalam hati bila lonceng tanda masuk usai istirahat berbunyi. Aku menggerutu karena menurutku jam istirahat terlalu singkat sehingga aku tidak sempat jajan banyak, sementara Anisa sama sekali tidak bisa jajan karena tidak punya uang. Aku merasa malu terhadap diriku sendiri.

“Tapi aku tidak merasa sedih, May. Malah aku bersyukur karena dengan begitu aku jadi punya waktu banyak untuk membaca buku, sebab kalau di rumah aku tidak bisa membaca dengan tenang karena diganggu dengan teriakan adik-adikku,” jelasnya lagi. Aku menganggukkan kepala membenarkan ucapannya.

“Pantas lah kamu bisa menjawab semua pertanyaan bu Nurul tadi ya Nis. Kamu selalu mengisi waktu istirahatmu dengan membaca,” pujiku. Anisa hanya tersenyum mendengar ucapanku.

Menjelang sore aku pun berpamitan pada Anisa. Dalam perjalanan pulang aku merenungi semua kejadian yang telah kualami pada hari ini. Aku memperoleh pelajaran berharga bahwa aku sepantasnya selalu bersyukur pada Allah karena telah memberikanku kehidupan yang layak. Bila dibandingkan dengan Anisa, kehidupanku jauh lebih baik. Aku berjanji dalam hati untuk memanfaatkan waktu luang dengan sebaik-baiknya.

 Tak sabar aku ingin segera tiba di rumah dan mencium tangan ibu. Aku akan mngatakan pada ibu bahwa aku sayang padanya dan berterimakasih karena sudah mengurus semua keperluanku dari pagi hingga malam, dari bayi hingga sekarang.

 

 

Selesai


No comments:

Post a Comment