Cerpen: Siapa Dalangnya? - SMPN 12 Lhokseumawe

Breaking

Saturday, December 5, 2020

Cerpen: Siapa Dalangnya?

                            Siapa Dalangnya?

Lonceng masuk baru saja berbunyi. Bergegas bu Kartika memasuki pekarangan sekolah. Dia agak sedikit terlambat hari ini. Biasanya dia tiba di sekolah lima belas menit sebelum lonceng masuk berbunyi. Semalam anaknya sakit demam dan batuk pilek sehingga rewel dan tidak mau tidur. Menjelang subuh baru dia bisa merebahkan diri sehingga mengakibatkan dia bangun agak kesiangan dari hari biasanya.

 Meskipun berat rasanya meninggalkan anaknya yang masih sakit di rumah, tapi karena rasa tanggung jawab yang tinggi untuk mendidik generasi penerus bangsa, maka dengan berat hati terpaksa dia berangkat juga.

Di lorong menuju kantor dewan guru bu Kartika berpapasan dengan beberapa siswa dan beberapa orang guru yang sedang bersiap-siap melangkah menuju kelas tempat mengajar masing-masing. Bu Kartika bergegas menuju mejanya, mengambil buku-buku dan alat tulis serta absensi siswa lalu berjalan terburu-buru ke arah  kelas VII-B.

Menjelang lonceng tanda istirahat berbunyi, cuaca terlihat mendung. Tak lama kemudian hujan pun turun dengan derasnya. Sebentar saja pekarangan sekolah sudah penuh dengan air. Memang sekarang sedang musim penghujan sehingga air hujan yang turun beberapa hari yang lalu belum semuanya terserap habis ke dalam tanah sehingga ketika hujan lagi maka sebentar saja pekarangan sekolah sudah banjir.

Setelah jam istirahat berakhir perlahan hujan pun reda. Setelah bel tanda masuk berbunyi, bu Kartika melangkahkan kakinya menuju kelas VIII-A. Sesampainya di depan kelas, dia melihat lantai selasar basah. Pasti terpercik biasan air hujan, fikirnya. Namun ketika masuk ke dalam kelas, dia juga melihat hampir seluruh lantai kelas basah. Siswa yang berada di dalam kelas pun masih sedikit.

“Mengapa lantai kelas ini becek, Mutia?” Tanya bu Kartika pada Mutia yang duduk paling depan.

“Anu buk, tadi kan kami ke kantin, sepatu kami basah jadi lantainya pun ikut basah,” jelas Mutia agak takut-takut.

“Iya, ibu tahu tadi hujan, tapi kan rasanya tidak mungkin lantai kelas jadi becek seperti ini, seperti habis disiram air dengan sengaja,” sahut bu Kartika kesal. Perlahan dia berkeliling kelas memperhatikan lantai kelas yang hampir seluruhnya basah. Beberapa siswa masuk ke dalam kelas setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Bu Kartika segera beranjak menuju ke meja guru, mengambil absen kelas untuk melihat berapa orang siswa yang tidak hadir pada hari itu. Ketika  baru saja bu Kartika meletakkan tubuhnya ke atas kursi untuk duduk, dia terkejut ketika menyadari bahwa kursi tersebut basah. Kursi guru tersebut bagian atasnya terbuat dari busa, sehingga bu Kartika tidak menyadari bahwa kursi tersebut basah. Seketika bu Kartika bangkit dari kusinya. Sambil menahan amarah, bu Kartika bertanya pada seisi kelas.

“Kenapa kursi ini basah, hah?” tanyanya dengan suara melengking.

Anisah yang duduk di sebelah Mutia terkejut mendengar suara bu Kartika yang begitu keras. Tidak pernah bu Kartika bertanya dengan suara sekeras itu. Pasti bu Kartika sangat marah, fikir Anisah dalam hati. Perlahan dia menyenggol lengan Mutia teman sebangkunya.

“Ssst,…Tia, kamu tahu siapa yang menyiram kursi guru?” bisik Anisah perlahan.

“Aku gak tau, Nis. Tadi kan kita sama-sama ke kantin,” jawab Mutia.

“Kalian sengaja ya menyiram kursi guru sampai basah begini. Ibu tahu rencana kalian, pasti supaya ibu tidak bisa mengajar, terus kalian bisa bermain sepuasnya,” bu Kartika berkata lagi dengan suara keras. Semua siswa terdiam, saling berpandangan satu sama lain, lalu tertunduk tidak berani menatap wajah bu Kartika.

“Winda yang menyiram kursi guru, bu,” tiba-tiba Aldi menyahut dari pojok belakang kelas. Mendengar namanya disebut spontan Winda  menoleh ke arah Aldi.

“Kamu jangan sembarangan menuduh ya. Mana buktinya?” Winda berkata sambil melotot ke arah Aldi.

“Benar yang dikatakan Aldi, bu. Saya melihat tadi Winda yang menyiram kursi guru bersama dengan Siska,” sahut Mukhtar dari belakang. Seperti halnya Winda, Siska pun kaget dan dengan tatapan marah menatap ke arah Mukhtar. Tapi dia tidak berkata apa-apa. Hanya wajahnya menunjukkan rasa terkejut dan takut.

Bu Kartika menatap muridnya satu persatu. Rasa kesal, kecewa dan marah beraduk menjadi satu. Tapi dia terpaksa harus menahan amarahnya. Dia harus segera pulang untuk mengganti rok dan pakaian dalamnya yang basah. Tidak mungkin dia bertahan sampai bel pulang sekolah nanti dengan kondisi basah seperti ini. Bu Kartika lantas mengambil buku-buku dan absennya lalu sebelum keluar kelas dia kembali berkata kepada para siswa.

“Ibu akan usut masalah ini sampai tuntas. Ibu akan cari tahu siapa dalangnya. Ibu sangat kecewa dengan tingkah kalian hari ini.”  Bu Kartika lalu berjalan keluar kelas.

Bu Kartika masuk ke dalam ruang dewan guru dengan terburu-buru. Setelah mengambil kunci motor beliau segera menemui piket untuk minta izin. Setelah menjelaskan apa yang terjadi, bu Kartika segera meninggalkan sekolah menuju rumah.

Keesokan harinya ketika bu Kartika baru saja memasuki ruang dewan guru, dia langsung dihadang oleh Bu Mayang. Bu Mayang adalah wali kelas VIII-A.

“Saya dengar dari piket kemarin anak-anak VIII-A buat ulah ketika jam bu Kartika  ya bu?” Tanya Bu Mayang kepada  bu Kartika yang baru saja meletakkan tasnya di atas meja.

“Iya bu Mayang. Saya tidak sempat menjelaskannya kemarin karena saya buru-buru pulang untuk mengganti rok dan pakaian dalam saya yang basah,” jelas bu Kartika.

Bu Mayang kelihatan marah mendengar jawaban bu Kartika. Dia marah sekaligus malu karena anak kelasnya membuat onar menyiram kursi guru.

“Kita panggil anak-anak itu sekarang ya bu. Kita beri peringatan dan hukuman supaya kejadian ini tidak terulang lagi di masa yang akan datang.”

 Bu Mayang segera memanggil siswa kelas VIII-A yang terlibat dalam kegaduhan kemarin. Setelah semuanya berkumpul mereka segera dibawa ke ruang dewan guru untuk diinterogasi.

Winda, Siska, Putri dan Ilham berdiri berjejer di depan bu Mayang. Semua tertunduk menatap lantai, berharap cemas akan hukuman apa yang akan diberikan kepada mereka. Kemarin sepulangnya bu Kartika ke rumahnya, guru piket masuk ke kelas VIII-A dan menginterogasi kelas tersebut. Akhirnya didapatlah empat nama sebagai pelaku utama penyiraman kursi guru.  Sekarang mereka tertunduk lesu di hadapan bu Mayang dan bu Kartika. Sepintas terlihat raut wajah menyesal atas perbuatannya.

“Siapa yang menyiram kursi guru kemarin?” Tanya bu Mayang dengan suara pelan namun tegas.

Tidak ada yang menyahut. Suasana di ruangan itu terasa sepi, seakan-akan tidak ada seorangpun yang berada di dalam ruangan itu.

“Ibu tanya sekali lagi, siapa yang menyiram kursi guru di kelas VIII-A kemarin?” ulang bu Mayang terdengar tak sabar.

“Saya bu,” sebuah suara menyahut perlahan. Ternyata Winda yang berbicara.

“Saya juga bu,” Siska turut menjawab.

“Lantas, apa alasan kalian menyiram kursi guru?” bu Mayang kembali bertanya.

Semua kembali terdiam, saling melirik satu sama lain. Putri terlihat paling resah, padahal dia belum mengaku kalau dia juga pelaku penyiraman tersebut. Wajahnya terlihat pucat dan berkeringat.

“Kalian belum menjawab pertanyaan ibu. Kenapa kalian menyiram kursi guru?” bu Mayang kembali mengulang pertanyaannya.

“Disuruh Putri, bu,” Siska menjawab perlahan. Bu Mayang menoleh ke arah Putri yang berdiri dengan wajah ketakutan.

“Betul kamu yang menyuruh mereka menyiram kursi guru, Putri?” bu Mayang bertanya dengan nada tidak percaya. Perlahan Putri menganggukkan kepalanya.

Bu Mayang menatap Putri dengan tatapan heran. Selama ini Putri dikenal sebagai siswa yang  disiplin, rajin dan pintar. Dia tidak pernah membuat keributan di kelas. Semua tugas yang diberikan guru selalu dikerjakan dan diserahkan tepat waktu. Tak heran kalau Putri menjadi siswa kesayangan guru di kelas tersebut. Tapi pada hari ini, Putri mengaku kalau dialah yang menyuruh teman-temannya untuk menyiram kursi guru. Bu Mayang tak habis pikir, kenapa Putri melakukan semua itu.

“Mengapa kamu punya ide sejelek itu, Putri?” tanya bu Mayang kembali. “Apakah kamu tidak menyadari akibat dari perbuatan teman-teman mu itu? Apakah kamu tidak suka bu Kartika mengajar di kelas itu? Ibu heran dan rasanya tidak percaya bahwa kamulah yang menyuruh teman-temanmu untuk melakukan perbuatan itu.” Bu Mayang menyerang Putri dengan pertanyaan bertubi-tubi, membuat Putri semakin takut dan tersudutkan. Air mata mulai mengalir di pipinya, semakin lama semakin deras.

“Maafkan saya, bu. Saya tidak menyangka akibatnya akan seperti ini. Saya hanya ingin bercanda saja. Saya tidak punya maksud lain,” ucap Putri terbata-bata. Ketiga temannya yang lain hanya terdiam sambil memandang Putri yang terus menangis.

Bu Mayang menghela nafas sambil berkata,” Kalian tahu tidak? Anak bu Kartika itu sedang sakit dan beliau terpaksa meninggalkan anaknya yang sedang sakit itu di rumah. Bu Kartika tetap pergi ke sekolah demi kalian, supaya kalian bisa tetap belajar dan tidak ketinggalan materi pelajaran. Tetapi kalian dengan sengaja membasahi kursi guru supaya bu Kartika tidak bisa mengajar. Coba kalian renungkan, gimana perasaan bu Kartika. Sudah berusaha hadir untuk kalian, eh kalian nya malah tidak ingin belajar.”

Putri dan ketiga temannya tertegun mendengar penjelasan bu Mayang. Bu Kartika yang duduk di sebelah bu Mayang hanya terdiam sambil menatap ke empat siswa tersebut. Perasaannya bercampur aduk antara kesal, marah, geli sekaligus sayang. Kesal dan marah karena mereka sudah membuat rok dan pakaian dalamnya basah, namun sekaligus geli membayangkan kenakalan anak-anak tersebut yang belum mengerti akibat dari kelakuannya. Semalam sebelum tidur dia merenungkan kenakalan anak-anak tersebut. Pasti perbuatan tersebut mereka lakukan atas dasar keisengan semata. Pada dasarnya mereka adalah anak-anak yang baik. Mungkin kemarin mereka hanya ingin bercanda dan tidak menyangka bahwa akibanya akan seperti itu. Namanya juga anak-anak. Dunia mereka penuh dengan canda dan tawa. Semua ingin dibuat candaan  tanpa memikirkan akibatnya dan disinilah peran guru sebagai orang tua kedua yang mengarahkan dan memberitahu mereka tentang perbuatan yang pantas dan yang tak pantas dilakukan.

“Bagaimana bu Tika? Semua keputusan ada di tangan ibu, karena mereka membuat kekacauan di kelas ibu,” kata bu Mayang membuyarkan lamunan bu Kartika. Bu Kartika lantas  berkata sambil menatap keempat muridnya.

“Ibu sebenarnya sangat marah pada kalian. Ibu akan menyuruh bu Mayang mengundang orang tua kalian ke sekolah besok supaya kalian kapok dan tidak mengulangi lagi perbuatan kalian pada masa yang akan datang,” ucap bu Kartika. Siska, Winda, Ilham dan Putri terkejut mendengar ucapan bu Kartika. Selama bersekolah di sini mereka belum pernah membuat kasus hingga dipanggil orang tua.

“Ibuuu,…jangan panggil orang tua kami buu. Kami janji tidak akan mengulangi perbuatan seperti ini lagi. Kami janji buuu,….” Putri terlihat histeris. Air mata berderai lagi di kedua pipinya. Teman-temannya yang lain pun mulai menangis. Bu Kartika sebenarnya tidak sampai hati membuat siswanya menangis seperti ini, tapi ini terpaksa dia lakukan supaya murid-muridnya itu tidak mengulangi perbuatan seperti itu lagi.

Bu Mayang dan bu Kartika saling melempar pandang. Perlahan bu Kartika menganggukkan kepalanya, dan bu Mayang paham akan kode yang diberikan bu Kartika. Sekian menit mereka membiarkan keempat siswa itu menangis tersedu. Setelah ruangan kembali senyap, bu Kartika kembali angkat bicara.

“Baiklah,…ibu memaafkan kesalahan kalian. Tapi kalian harus berjanji bahwa kalian tidak akan mengulangi perbuatan ini lagi sampai kapan pun. Kalian bersedia?”

“Kami bersedia bu. Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Terimaksih banyak ibuu,” Putri terisak namun terlihat lega. Bu Kartika dan bu Mayang saling melempar senyum memperhatikan tingkah murid-muridnya itu. Kelihatan sekali mereka begitu lega setelah mendengar ucapan bu Kartika tadi.

“Ayo sekarang kembali ke kelas kalian, tapi sebelumnya bersalaman dulu dengan bu Kartika sambil minta maaf,” perintah bu Mayang.

Segera keempatnya berbaris menyalami bu Kartika dan bu Mayang bergantian. Mereka berjanji dalam hati tidak akan mengulangi perbuatan iseng ini lagi. Bu Kartika menyalami keempatnya sambil mengusap bahu mereka. Selalu ada cinta di hati seorang guru untuk murid-muridnya dan selalu ada segudang maaf bagi tiap kenakalan mereka. Bu Kartika memandangi punggung keempat murid-muridnya yang semakin menjauh. Semoga kelak mereka jadi orang yang berguna bagi orang lain, bathinnya.

 

 

SELESAI

 




 

No comments:

Post a Comment