Aku dan Segelas Kopi - SMPN 12 Lhokseumawe

Breaking

Thursday, December 17, 2020

Aku dan Segelas Kopi




“AKU DAN SEGELAS KOPI”

Kopi. Siapa yang tak kenal dengan minuman ini. Si hitam pekat yang manis menawan hati. Minuman yang selalu dicari dan diminati tua dan muda. Bila mendengar kata kopi aku terbayang masa kecilku dulu. Hampir setiap pagi diajak oleh alamarhum ayah untuk menikmati kopi di warung kopi terkenal di kota kecil kami, Bireuen, Aceh. Minum kopi harus di warung tersebut, tidak boleh di warung yang lain. Meskipun  kondisi warung sudah penuh sesak dipadati pengunjung namun para pecandu kopi ini rela mengantri asalkan bisa minum kopi di warung ini. Entah apa sebabnya akupun tidak mengerti karena pada saat itu belum mampu menikmati segelas kopi meskipun kata ayahku sangat nikmat. Dibiasakan setiap pagi minum kopi oleh ayah tidak lantas membuatku menjadi pecandu kopi. Aku lebih sering memilih minum teh atau minuman yang lain pada saat itu.

Kecanduan ayah pada kopi inilah juga yang membuat abangku kehilangan salah satu gigi depannya ketika pada suatu pagi diminta untuk membelikan kopi di warung kopi langganan ayah tersebut. Ayahku pada pagi yang naas tersebut tidak sempat pergi ke warung kopi seperti biasanya maka agar tidak kehilangan moment kebersamaan dengan kopi langganannya tersebut maka disuruhlah abangku untuk membelinya. Mungkin karena terburu-buru takut terlambat ke sekolah, abangku tak sengaja menyenggol motor seorang pengendara hingga terpelanting ke jalan raya yang mengakibatkan dia kehilangan salah satu giginya. Inilah peristiwa pertama yang membuat aku terkenang akan dahsyatnya  pengaruh si kopi.

Ketika kakak tertuaku menikah dengan laki-laki dari suku Gayo, maka jenis kopi favorit ayah pun berganti dengan kopi Gayo asli. Buah kopi dari dataran tinggi ini sengaja dibeli langsung dari petani kopi lantas disangrai sendiri oleh ibuku tercinta. Alasan ayah meracik sendiri kopi tersebut karena kalau kopi yang ada dipasaran sudah mengalami perubahan rasa karena dicampur dengan jagung atau bahan-bahan yang lain. Ayah menginginkan kopi dengan cita rasa yang asli. Maka jadilah rumah mengepulkan asap yang menyesakkan dada dan menusuk hidung bila ibu sedang menggongseng kopi sesuai keinginan ayah. Pada saat itu aku benci aroma kopi tersebut karena kepulan asapnya menyebabkan mataku perih. Ini peristiwa kedua yang menyebabkan aku terkenang akan dahsyatmya pengaruh si kopi.

Selain mendatangkan  biji kopi langsung dari asalnya, ayahku juga suka menyeduh kopinya sendiri di pagi hari sebelum berangkat ke kantor.  Namun bila sore hari beliau sering menyuruhku untuk membuatkannya secangkir kopi. Sering ayah membangunkanku yang sedang tidur siang untuk membuatkannya kopi. Bila aku malas bangun maka ayah akan menggelitik telapak kakiku agar segera terbangun. Pernah pada suatu sore saat aku sedang nikmatnya dibuai mimpi, ayah membangunkanku untuk menyeduh kopi. Dengan malas dan terkantuk-kantuk aku beranjak ke dapur untuk memasak air. Mungkin karena rasa kantuk yang masih mendera, tak sengaja tanganku ketumpahan air panas. Ini peristiwa ketiga yang menyebabkan aku terkenang akan dahsyatmya pengaruh si kopi.

Setelah menikah, kebetulan suami adalah seorang perokok dan pecandu kopi. Setiap pagi tentu saja segelas kopi sudah kuhidangkan di atas meja makan. Bukan hanya pagi hari, siang, sore bahkan malam haripun suami sering minta dibuatkan segelas kopi. Kebetulan  sumi bukanlah tipe laki-laki yang suka mengopi di warung kopi, sehingga stok kopi selalu tersedia di rumah. Sering bila suami menikmati segelas kopi, aku meminta tegukan terakhir untuk kuminum. Selalu seperti itu. Entah mengapa aku malas menyediakan khusus untuk diriku sendiri. Lama kelamaan akhirnya aku jadi menyukai kopi.

Sering bila malam menjelang dan suami belum bisa tidur aku menemaninya mengobrol sambil tentu saja ditemani dengan segelas kopi. Meski mata berat menahan kantuk namun terpaksa juga setia menemani suami mengobrol hingga larut malam. Tak heran bila keesokan harinya kepala sedikit pusing karena kurang tidur.

Namun pada suatu pagi segelas kopi yang terhidang tidak disentuhnya sama sekali.  Bukan kebiasaan suami untuk tidak langsung meminum kopi selagi masih mengepulkan asap. Dan pagi ini aku dibuat heran, ada apa gerangan sehingga si hitam manis ini belum disentuh. Tak lama pertanyaanku terjawab ketika melihat suami keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat. Ternyata beliau baru saja muntah. Mungkin masuk angin pikirku sambil mengoleskan balsem di punggungnya. Kusarankan ke puskesmas sementara aku bergegas ke sekolah menunaikan tugas. Namun sorenya suami mengatakan tidak usah lagi menyediakan kopi karena menurut dokter beliau terkena asam lambung sehingga tidak diperbolehkan lagi meminum kopi. Terpaksa dia berpisah dengan minuman kesayangan karena perut tak lagi mengijinkan. Ini peristiwa keempat yang menyebabkan aku terkenang akan dahsyatnya pengaruh si kopi.

Pada suatu pagi  aku  membuatkan segelas kopi untuk suami. Namun tiba-tiba tersadar bahwa suami sudah tidak minum kopi lagi. Merasa sayang dibuang maka si kopi pun kuminum sedikit demi sedikit. Kok rasanya nikmat ya, bathinku hingga akhirnya isi gelas itupun tandas masuk ke perut. Sejak saat itu kopi merupakan minuman yang selalu tersedia di atas meja, bukan untuk suami tapi untukku sendiri. Rupanya memang aku tidak bisa jauh dari minuman ini, meski suami sudah tak lagi meminumnya kini gantian akulah yang selalu setia menyediakan segelas kopi di atas meja untuk diriku sendiri.

Inilah peristiwa ke lima yang ingin kukisahkan kepada para pembaca bahwa dengan kedahsyatan kopi juga aku mampu menghadirkan tulisan ini di hadapan para pembaca. Betapa tidak, dengan bantuan segelas kopi, aku mampu bertahan di depan notebook selama 3 jam nonstop untuk mengejar deadline tulisan yang sekarang hadir di hadapan para pembaca. Itulah kedahsyatan kopi yang kurasa.

 

SELESAI


                            Lhokseumawe, 9 Februari 2018

 


 

No comments:

Post a Comment