Peraslah Jeruk dan Jadikan ia Minuman yang Manis - SMPN 12 Lhokseumawe

Breaking

Saturday, October 10, 2020

Peraslah Jeruk dan Jadikan ia Minuman yang Manis

     Orang yang pintar dan terampil selalu bisa mengubah kekalahan menjadi kemenangan. Sementara orang yang tidak termapil semakin mempersulit keadaannya, bahkan seringkali ia membuat dua malapetaka dari satu perkara.
     Rasulullah Saw. dipaksa untuk meninggalkan Mekah, tetapi bukannya beliau berhenti berdakwah, justru beliau melanjutkannya di Madinah, kota yang mendapat pencerahan secepat kilat yang tercatat dalam sejarah.
     Imam Ahmad bin Hambal pernah disiksa dengan kejam, tetapi ia mendapatkan kebaikan dari peristiwa yang dilaluinya sampai kemudian ia menjadi seorang Imam Mazhab.
     Imam Ibnu Taimiyah pernah dipenjara. Ketika keluar ia menjadi seorang yang jauh lebih  pandai dibanding sebelumnya.
     Imam as-Sarakhsi juga pernah menjadi tahanan, disekap di ruang bawah tanah bekas sebuah sumur tua. Di sana ia berhasil menulis 20 jilid buku mengenai fikih Islam. Ibnu Atsir menjadi lumpuh dan setelah itu ia berhasil menulis "Jami'ul Ushul" dan "An-Nihayah", dua di antara kitab-kitab hadits yang paling terkenal. Imam Ibnu Qayyim al-Jauzi diusir dari Baghdad. Kemudian, ia menjadi ahli dalam"Qira'ah Sab'ah Al-Qur'an". Malik bin ar-Raib sedang terbaring lemas di atas tempat tidurnya ketika ia berhasil mengubah puisinya yang paling indah dan terkenal yang bahkan masih bisa dinikmati sampai saat ini. Ketika anak-anak Abu Dzuaib al-Hudzali meninggal, ia membacakan untuk mereka sebuah puisi yang membuat seluruh dunia mau mendengar dan mengaguminya.
      Oleh karena itu, jika Anda ditimpa kemalangan, lihatlah sisi baiknya. Jika seseorang memberi anda segelas air jeruk masam, tambahkan gula secukupnya. Dan, jika seseorang memberi anda ular sebagai hadiah, ambillah kulitnya yang berharga dan buanglah sisanya.
     "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat Abik bagimu." (Al-Baqarah[2]: 216)
     Sebelum terjadinya revolusi Prancis, pemerintah saat itu telah memenjarakan dua orang penyair yang brilian. Salah satunya adalah orang yang optimis. Sementara yang kedua adalah orang pesimis. Keduanya melongokkan kepala keluar jendela sel. Si optimis kemudian bisa melihat bintang dan tertawa, sedangkan si pesimis melihat kotornya jalan dan dia menangis. Lihatlah sisi lain sebuah tragedi, di mana keburukan murni tidak pernah ditemui. Dan dalam setiap keadaan, seseorang bisa saja menemukan kebaikan, keuntungan, serta pahala dari Allah.
(Dikutip dari sebuah buku: al-Qarni, 'Aidh Abdullah, DR., MA., Don't Be Sad: Cara Hidup Positif tanpa Pernah Sedih dan Frustasi, Maghfirah pustaka, 2004, hal. 49-50)

3 comments: