Cerpen; Sepatu Untuk Sahabat - SMPN 12 Lhokseumawe

Breaking

Saturday, October 10, 2020

Cerpen; Sepatu Untuk Sahabat

 



Sepatu Untuk Sahabat

“Ratnaaaa….tungguuu,”teriak Wulan sambil berlari mengejar Ratna yang terlihat terburu-buru meninggalkan halaman sekolah. Ratna menoleh sambil tersenyum. Sahabatnya itu kelihatan kerepotan membawa tas sekolahnya yang besar sambil menenteng kantong plastik yang entah apa isinya.

“Kamu kok tidak menunggu aku sih,”dengus Wulan sebal melihat Ratna tersenyum menertawakan kerepotannya.

“Habis kamu lama amat mengurus barang-barangmu yang segudang itu,”jawab Ratna sambil lalu. “Ibu menyuruhku cepat-cepat pulang karena hari ini beliau mau pergi ke rumah tetangga yang sedang melaksanakan hajatan. Aku harus menjaga adikku yang masih kecil selama ibu pergi,”sambung Ratna menjelaskan.

“Oh, ngomong dong dari tadi,”sahut Wulan masih menunjukkan wajah kesalnya.

“Ini udah ngomong neeekkk,”balas Ratna sambil mencubit pipi Wulan. “Kamu aja yang selalu pakai gerakan lambat sehingga selalu tertinggal. Apa sih yang kamu kerjakan tadi Lan?” tanya Ratna sambil melirik kantong plastik yang berada di tangan Wulan.

“Oh….Cuma sampah kok Rat,”Wulan menjawab sambil membuka sedikit kantong plastik hitam yang berada di tangannya. Ratna mengerutkan kening sambil berkata,”Tumben kamu rajin ngumpulin sampah-sampah. Untuk apa itu Lan?” Tanya Ratna penasaran.

“Ada deehh,…” jawab Wulan sambil mengedipkan matanya. “Mau tau aja apa mau tau banget?” canda Wulan menggoda Ratna. Ratna hanya mengangkat bahunya lantas kembali berjalan mendahului Wulan.

“Eh Ratna,…kamu marah ya?” Tanya Wulan menjejeri langkah Ratna.

‘Gak kok Lan, aku cuma terburu-buru saja. Ibu pasti sudah menungguku,” sahut Ratna sambil menunduk melepaskan sepatunya. Sepatu tersebut dimasukkannya ke dalam kantong plastic lalu dimasukkan lagi ke dalam tasnya. Wulan memperhatikan apa yang dilakukan Ratna. Dia tidak perlu bertanya kenapa Ratna melepaskan sepatunya. Sebagai teman sebangku Wulan sangat paham bahwa sepatu Ratna sudah lama robek bagian depannya. Sepatu itu sudah pernah dijahit namun kembali robek karena memang sepatu itu sudah tua dan lapuk. Orang tua Ratna belum mempunyai uang untuk membelikannya sepatu baru. Sebagai anak yang sangat mengerti kesulitan orang tuanya, Ratna tahu bahwa orang tuanya belum mampu mengganti sepatunya dengan sepatu yang baru. Maka untuk mencegah agar sepatunya tidak semakin rusak, setiap pulang sekolah Ratna menyimpan sepatunya dalam tas dan dia pulang memakai sandal jepit yang memang sengaja dibawanya dari rumah. Sedih hati Wulan melihat keadaan sahabatnya itu, namun di sisi yang lain dia juga salut melihat Ratna tidak pernah mengeluh dan tidak terlihat sedih. Ingin Wulan membantu Ratna dengan membelikannya sepatu baru namun apa daya dia sendiri tidak memiliki uang untuk membantu Ratna. Keluarganya juga bukan tergolong keluarga mampu. Ayahnya hanya seorang nelayan kecil yang sehari-hari menggantungkan hidupnya dengan mencari ikan di laut. Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang kerjanya hanya mengurus rumah tangga. Namun diam-diam Wulan memiliki tekad yang kuat untuk membantu sahabatnya itu. Dia akan memberikan Ratna sepatu baru pas di hari ulang tahunnya nanti. Itulah mengapa dia memungut sampah plastik bekas air mineral sepulang sekolah tadi. Rencananya sampah-sampah plastic itu akan dijualnya kepada Bu Yanti tetangga dekat rumahnya yang memiliki usaha membuat tas dan barang-barang kerajinan tangan lainnya. Wulan sering melihat Bu Yanti membeli sampah plastic bekas air mineral tersebut dari orang yang mengantarkannya ke rumah Bu Yanti. Wulan pun lantas mempunyai ide untuk mengumpulkan sampah-sampah yang banyak berserakan di sekolahnya itu. Nanti kalau uangnya sudah terkumpul banyak maka dia akan membelikan sepatu untuk Ratna. Wulan tersenyum senang membayangkan bila nanti usahanya itu berhasil.

“Hei,…kok malah melamun,” Ratna menyengggol tangan Wulan. “Ayok cepat, aku tidak mau dimarahi ibu.” Wulan pun bergegas mengikuti langkah Ratna. Di pertigaan mereka berpisah, Ratna belok ke kiri sedangkan Wulan belok ke kanan.

Sore harinya Wulan mendatangi rumah Bu Yanti.

“Assalamualaikum,” ucap Wulan di depan pintu.

“Waalaikumsalam,” terdengar jawaban dari dalam. Seseorang datang membukakan pintu.

“Oh, nak Wulan rupanya. Ibu kirain siapa tadi,” kata Bu Yanti ramah. “Masuklah, kebetulan ibu lagi sendirian di rumah. Ada yang bisa ibu bantu?” Tanya Bu Yanti.

“Anu bu, saya ingin menjual sampah bekas air mineral ini kepada ibu,” sahut Wulan malu-malu. Bu Yanti terlihat agak terkejut dan baru menyadari bahwa Wulan membawa sesuatu di tangannya.

“Lho, kamu memungut sampah-sampah ini Wulan?” Tanya Bu Yanti keheranan. “Untuk apa kamu melakukan ini? Apa ibumu tahu bahwa kamu memungut sampah-sampah ini?” Tanya Bu Yanti bertubi-tubi. Wulan gelagapan ditanya seperti itu. Dia tidak bisa menjawab, hanya berdiri salah tingkah. Bu Yanti yang menyadari bahwa Wulan merasa serba salah lantas mempersilakannya duduk.

“Duduklah Wulan. Kebetulan Ibu sedang menggoreng ubi di belakang. Kamu tunggu sebentar ya.” Kata Bu Yanti sambil beranjak masuk ke dapur. Wulan duduk di kursi palstik yang ada di ruang tengah rumah Bu Yanti. Hatinya bimbang apakah sebaiknya berterus terang saja kepada Bu Yanti tentang rencananya membantu Ratna ataukah tetap menyembunyikan rencana tersebut dari siapapun.

Tak lama Bu Yanti muncul dengan sepiring kecil ubi goreng yang masih mengepulkan asap. Bu Yanti meletakkan piring tersebut di meja di depan Wulan.

“Yuk Wulan, ubinya dimakan jangan malu-malu,” ujar Bu Yanti sambil mengambil satu untuk dirinya sendiri. “Sambil makan ubi kamu bisa bercerita untuk apa kamu tiba-tiba datang kemari membawa sampah-sampah itu untuk dijual kepada ibu. Ibu hanya ingin memastikan apakah orang tuamu yang menyuruh kamu melakukan pekerjaan ini atau semua ini atas keinginan kamu sendiri?” Bu Yanti kembali bertanya kepada Wulan.

Perlahan Wulan lantas bercerita alasan apa yang membuatnya memungut sampah-sampah itu. Wulan bercerita bahwa dia ingin membelikan sepatu baru untuk Ratna, sahabat karibnya. Bu Yanti tercengang mendengar penjelasan Wulan. Dia merasa terharu karena anak seusia Wulan sudah memiliki empati yang tinggi untuk menolong orang lain sekaligus mempunyai ide yang unik yang tidak terfikirkan oleh orang lain.

“Hmm,..baiklah. Ibu akan membantu kamu mewujudkan rencanamu itu. Ibu akan membeli semua sampah bekas wadah air mineral yang sudah kamu kumpulkan itu.”

Wulan sangat senang mendengar ucapan Bu Ratna.

“Terimakasih bu, besok saya akan datang lagi membawa plastic-plastik bekas seperti yang saya bawa hari ini. Saya akan membawanya setiap hari sampai uangnya cukup untuk membeli sepatu.” ujar Wulan antusias. Bu Yanti hanya tersenyum sambil mengangguk. Wulan lantas pamit pulang setelah menghabiskan beberapa potong ubi goreng.

Keesokan harinya sepulang sekolah Wulan kembali mendatangi rumah Bu Yanti. Kebetulan Bu Yanti sedang duduk di teras belakang rumahnya sambil mengerjakan sesuatu.

“Assalamualaikum, Bu Yanti.”

“Waalaikumsalam. Kamu membawa sampah seperti kemarin ya?”

“Iya, bu. Hari ini saya dapat lebih banyak dari kemarin.”

“Hmm…ya letakkan saja disitu dulu ya, nanti selesai ini baru kita bereskan pembayarannya.” Sahut Bu Yanti sambil tersenyum. Wulan meletakkan barang yang dibawanya di atas meja kayu besar yang terdpat di situ.

Wulan mendekat ke arah Bu Yanti yang sedang mengerjakan sesuatu. Di sekelilingnya banyak berserakan botol-botol plastic bekas, benang, lem, gunting dan alat-alat lainnya.

“Bu Yanti sedang membuat apa?” Tanya Wulan ingin tahu.

“Oh, ini,,,ibu sedang mengerjakan tas pesanan orang,” sahut Bu Yanti tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaannya.

“Sampah-sampah plastik yang berserakan ini bisa kita buat aneka ragam hasil kerajinan.” Lanjutnya lagi. “Kamu lihat Wulan, hanya dengan modal sampah dan kreatifitas, benda-benda tak terpakai ini bisa disulap jadi tas dan tentu saja bisa kita jual dengan harga yang terjangkau.

“Apa-apa saja bahan yang kita butuhkan untuk membuat tas ini, bu?”

“Oh, ini bahannya murah meriah saja. Coba kamu ambil plastik bekas aqua gelas itu biar ibu jelaskan cara pembuatannya,” perintah bu Yanti. Wulan mengambil plastik bekas aqua gelas lalu menyerahkannya pada Bu Yanti.

“Nah, pinggiran atas plastik ini kita gunting hingga menyerupai bentuk lingkaran kira-kira sejumlah lima puluh buah. Lalu kita balut dengan benang yang berwarna keemasan ini atau dengan warna benang lain menurut motif yang kita kehendaki. Lalu masing-masing lingkaran yang sudah kita balut dengan benang itu kita jalin hingga menyatu lalu kita jahit dengan benang. Setelah cukup lebarnya dengan tas yang ingin kita buat lalu kita bentuk hingga menyerupai bentuk tas. Untuk bagian dalamnya bisa kita jahit kain perca atau sisa kain yang bisa kita dapatkan dari tukang jahit.” Jelas Bu yanti panjang lebar.

Wulan mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Ternyata dari limbah palstik bekas kita bisa membuat benda-benda yang indah dan memiliki daya jual, kata Wulan dalam hati.

“Bu Yanti, liburan yang akan datang ini, saya mau belajar sama bu Yanti cara membuat tas ini ya Buk.”

“Boleh-boleh saja Wulan. Ibu dengan senang hati akan mengajarkannya. Ibu senang berbagi ilmu karena dengan berbagi ilmu kita mendapatkan pahala.”

Wulan tersenyum sambil menganggukkan kepala. Satu jam kemudian Wulan pun berpamitan karena harus membantu ibunya mencuci piring dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.

Tidak terasa satu bulan sudah Wulan mengumpulkan sampah plastic bekas. Kemarin sore dia membuka celengannya dan terkejut melihat uangnya ternyata sudah cukup untuk membeli sepasang sepatu. Segera Wulan mengajak ibunya untuk menemaninya membeli sepatu untuk Ratna. Awalnya ibunya kaget mengapa Wulan memiliki uang sendiri untuk membeli sepatu. Setelah Wulan menjelaskan semuanya barulah ibunya mengerti dan terharu melihat anaknya memiliki hati yang begitu baik dan perhatian terhadap kesulitan orang lain.

Ketika bel pulang sekolah berbunyi, Wulan menarik tangan Ratna yang ingin segera keluar dari kelas.

“Ratna, tunggu sebentar, jangan pulang dulu. Aku mau mengatakan sesuatu. Pentiiing….,” ucap Wulan serius. Ratna membatalkan gerakannya sambil menatap Wulan dengan wajah heran.

“Ada apa sih Lan, aku udah lapar niihh. Tadi gak sempat sarapan tau,” omel Ratna

“Tunggu sebentar sampai semuanya keluar kelas,” ujar Wulan lagi.

Dengan perasaan tidak sabar Ratna menunggu sampai semua teman-teman sekelasnya keluar. Kini hanya tinggal dia dan Wulan di kelas itu.

“Rat,…aku mau memberikan ini buat kamu,” ucap Wulan pelan sambil mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam tas nya.

“Apa ini Lan?” Tanya Ratna keheranan. Perasaan dia tidak ulang tahun hari ini. Kok Wulan tumben-tumbenan ya memberikannya hadiah.

“Bukalah,” ucap Wulan sambil tersenyum.

Ratna segera membuka kantong palstik dan mengeluarkan benda yang ada di dalamnya. Ternyata kotak sepatu. Sambil menatap Wulan yang berdiri di hadapannya, Ratna membuka kotak sepatu tersebut. Ratna terkejut melihat isinya sepatu baru berwarna hitam lengkap dengan sepasang kaus kaki berwarna putih.

“Ini untuk aku Lan?” tanyanya tak percaya.

“Iya Rat, sepatu ini untuk kamu. Hadiah dari aku untuk kamu,” sahut Wulan.

“Tapi kan aku tidak ulang tahun hari ini. Kok kamu ngasih hadiah, sih?” Ratna masih belum mengerti.

“Lho, apakah ada peraturannya kalau tidak ulang tahun tidak boleh memberikan hadiah? Aku senang memberikan sesuatu buat kamu Rat, karena kamu sahabatku yang paling baik,” ucap Wulan lagi.

Ratna menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Wulan memberikannya hadiah sepatu ini pasti karena sahabatnya itu tahu bahwa dia selama ini selalu memakai sepatu lamanya yang sudah robek dan tidak bisa dijahit lagi.

“Kamu dapat uang dari mana Lan?” Tanya Ratna.

“Ah..itu tidak usah kamu fikirkan, nona manis. Yang penting sekarang kamu sudah punya sepatu baru dan aku tidak mau lagi melihat kantong palstik hitam beserta isinya itu,” jawab Wulan sambil tertawa. Ratna ikut tertawa mendengar jawaban Wulan meskipun di sudut matanya ada air mata yang mengalir. Air mata terharu karena dia memiliki sahabat yang sangat baik seperti Wulan. Meskipun Wulan bukan  anak orang kaya, tapi dia tetap ingin membantu kesusahan temannya dengan caranya sendiri.

Siang itu matahari bersinar dengan lembutnya. Dua sahabat berjalan sambil bergandengan tangan pulang sekolah menuju ke rumah masing-masing. Indahnya sebuah persahabatan bila di dalamnya diisi dengan cinta dan saling pengertian.

 

SELESAI


No comments:

Post a Comment