Cerpen: Gara-gara Permen - SMPN 12 Lhokseumawe

Breaking

Monday, October 26, 2020

Cerpen: Gara-gara Permen


 

Gara-gara Permen

Jam masuk selesai istirahat baru saja berbunyi. Para siswa berlarian masuk ke kelasnya masing-masing, demikian juga dengan siswa kelas 9B. Hamid terlihat santai menghabiskan potongan terakhir bakwan ke dalam mulutnya lantas meminum es sirupnya yang tinggal setengah gelas lagi.

“Kamu kok tidak segera masuk ke kelas, Mid?” tanya bu Lisma penjaga kantin sekolah.

“Malas ah buru-buru, aku mau masuk telat saja,” jawab Hamid dengan santainya.

“Eh, tidak boleh seperti itu, Mid. Nanti kamu dimarahi guru lho. Siapa yang masuk kelas kamu sekarang ?” Tanya bu Lisma lagi.

“Bu Suharni, guru IPS”, jawab Hamid malas-malasan. Diteguknya es sirup terakhir lantas segera meninggalkan kantin.

Bu Suharrni  sedang menanyakan tugas rumah yang diberikannya minggu lalu ketika Hamid memasuki kelas. Tanpa mengucapkan salam Hamid masuk lantas segera duduk di sebelah Farhan.

“Hamid,” tegur bu Suharni. Kalau mau masuk harus mengucapkan salam dulu. Sekarang kamu keluar, ketuk pintunya lalu ucapkan salam, perintah bu Suharni tak terbantahkan. Dengan gayanya yang malas-malasan Hamid terpaksa keluar lantas masuk kembali seraya mengucapkan salam. “Nah, itu baru anak yang baik yang tahu sopan santun, kata bu Suharni.

“Anak-anak, siapa yang tidak hadir hari ini?” bu Suharni bertanya dengan suara nyaring.

“Siska dan Yulia bu,” jawab Riska sekretaris kelas 9B.

“Hmm,…kemana mereka Riska?” Tanya bu Suharni lagi.

“Tidak tahu bu, sepertinya tidak ada pemberitahuan dari piket bu,” jawab Riska lagi.

“Baiklah, sekarang kita mulai pelajaran kita yang baru ya,” lanjut bu Suharni. “ Sebelumnya ibu mau bertanya dulu, siapa yang sudah pernah pergi ke Jakarta? Tahukah kalian Jakarta itu terletak di pulau mana di Indonesia?

Kelas hening tidak ada siswa yang menjawab. Bu Suharni lantas berdiri sambil mengambil spidol dan selembar peta.

“Baiklah, ibu akan memperlihatkan peta Indonesia kepada kalian,” bu Suharni lantas berbalik membelakangi siswa sambil membawa peta dan double tips untuk meletakkan peta tersebut di papan tulis. Tiba-tiba terdengar suara tertawa dari beberapa siswa yang sedang melihat kearah depan, beberapa siswa yang lain terlihat heran dengan raut wajah bertanya-tanya ada apa gerangan sehingga teman-temannya tertawa.

Bu Suharni segera menoleh ke belakang. Tampak beberapa siswa tertawa sambil menutup mulut.

“Mengapa kalian tertawa?” tanya bu Suharni dengan wajah heran.

Siswa kelas 9B tidak ada yang menjawab. Lantas bu Suharni kembali berbalik dan melanjutkan pekerjaannya menempelkan peta di papan tulis. Saat itulah seorang siswa yang bernama Ayu melihat ada permen karet yang menempel di rok bagian belakang bu Suharni. Para siswa kembali tertawa, membuat bu Suharni spontan berbalik dan memasang wajah marah. Sebelum bu Suharni berteriak marah, Ayu segera berkata dengan suara pelan.

“Bu, ada permen karet di rok belakang ibu, “ katanya. Bu Suharni secara reflek meraba rok bagian belakangnya. Seketika wajahnya bersemu merah pertanda beliau sedang marah.

“Siapa yang meletakkan permen karet di kursi guru, hah?” teriaknya lantang. Seisi  kelas mendadak sepi. Tak ada seorangpun yang berbicara apalagi tertawa.

“Saya ulangi pertanyaan saya ya. Siapa yang meletakkan permen karet di kursi guru?” bu Suharni mengulangi pertanyannya. Siswa kelas 9B kembali terdiam, tak seorang pun yang menyahut. Dengan gemas bu Suharni membanting spidol ke atas meja.

“Baiklah, kalau tidak ada yang mengaku hari ini kita terpaksa tidak belajar. Ayo semuanya keluar dan berbaris di depan tiang bendera, “ bu Suharni berkata dengan suara yang keras.

Semua siswa kelas 9B berbaris di lapangan. Cuaca hari ini lumayan terik. Sebagian siswa perempuan menggerutu sambil menyumpah-nyumpah terhadap si pelaku.

“Jika tidak ada yang mengaku, maka terpaksa kalian berdiri di sini sampai bel pulang berbunyi,” ucap bu Suharni lantas berjalan meninggalkan lapangan menuju  kea rah  ruang dewan guru. Siswa kelas 9B saling berpandangan dengan raut wajah kesal dan bertanya-tanya siapa kiranya biang kerusuhan ini. Nazar sang ketua kelas lantas berbicara.

 “Ayolah mengaku saja siapa yang meletakkan permen karet di kursi guru. Kita semua sudah kepanasan niih.”

Ucapan Nazar disambung gerutuan serupa oleh siswa yang lain.

“Siapa sih yang melakukannya? Mengaku saja lah. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab,” terdengar suara Henni sang bendahara kelas. Siswa yang lain mengiyakan. Namun belum ada yang bergerak untuk mengakui perbuatannya.

Hamid hanya terpekur sambil menatap lantai semen di bawah kakinya. Bathinnya bergejolak antara keinginan untuk mengakui perbuatannya  atau mengelak dari tanggung jawab sudah berbuat salah. Dia merasa kesal kepada bu Suharni karena selalu menegur kesalahannya. Minggu lalu dia tertidur di kelas karena malamnya terlambat pulang dari balai pengajian. Namun bu Suharni malah menepuk bahunya dengan buku, membuat ia terbangun dan membuyarkan mimpi indahnya. Lantas bu Suharni masih melanjutkan dengan omelan-omelan yang membuat panas telinganya. Lantas tidak cukup sampai disitu, bu Suharni menyuruhnya mencatat pelajaran namun dia lupa membawa pulpen karena semalam dipinjam ibunya mencatat barang-barang yang akan dibeli untuk warungnya. Namun bu Suharni tidak mau menerima alasannya. Akibatnya, Hamid harus mencatat tiga kali lipat lebih banyak dari catatan teman-temannya. Maka hari ini, sebelum ke kantin pada jam istirahat tadi, Hamid sengaja menempelkan permen karet yang sudah dikunyahnya ke atas kursi guru, berharap permen tersebut menempel di rok bu Suharni. Hatinya puas namun sekarang timbul penyesalan melihat wajah teman-temannya yang kepanasan dan mulai berkeringat. Apalagi ketika dilihatnya wajah Mutia yang putih sudah kemerahan terkena matahari. Dia kasihan melihatnya apalagi diam-diam dia menyukai Mutia yang cantik dan pintar itu.

Sambil menghela nafas, Hamid keluar dari barisan dan berjalan gontai menuju kantor dewan guru.

“Hei Hamid, kamu mau kemana?” tanya Nazar.

“Aku mau bertemu bu Suharni. Aku mau mengakui perbuatanku.” Jawab Hamid perlahan.

“Huuuuuuuuhhh…kamu ini bikin ulah saja sih,” ucap Andini kesal. “Gara-gara kamu kita semua terpaksa dijemur disini. Mana cuacanya panas lagi,” lanjut Andini sambil melotot ke arah Hamid. Hamid tidak memperdulikan ucapan Andini. Dia terus melangkah meninggalkan teman-temannya.

Sesampainya di kantor Hamid langsung menemui bu Suharni. Ketika bu Siharni melihat kedatangan Hamid dia langsung bisa menebak bahwa Hamid lah  yang meletakkan permen karet di kursi guru tadi.

“Ada apa, Hamid,” bu Suharni bertanya meskipun dia tahu maksud kedatangan Hamid.

“Saya mau mengakui kesalahan saya bu. Saya yang meletakkan permen karet di kursi guru.” Hamid berkata dengan sangat pelan namun tetap terdengar karena hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu.

Bu Suharni meletakkan kacamatanya lantas dia menatap kearah Hamid yang sedang menunduk.

“Duduklah,” ucap bu Suharni dengan lembut. Lantas Hamid pun duduk di hadapan bu Suharni.

“Mengapa kamu melakukan perbuatan tersebut, Hamid?” tanya bu Suharni. Hamid hanya menunduk tidak berani menatap wajah bu Suharni.

“Saya hanya iseng, bu” jawab Hamid perlahan.

“Hanya iseng? Atau ada maksud lain?” selidik bu Suharni. “Ayo kamu jelaskan dengan jujur, ibu janji tidak akan marah,” lanjut bu Suharni.

Hamid terdiam beberapa saat. Lantas dia kembali berucap.

“Saya kesal karena minggu lalu ibu mengomeli saya yang tertidur di kelas. Ibu juga menyuruh saya mencatat tiga halaman penuh karena saya lupa membawa pulpen.” Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulut Hamid.

Bu Suharni tersenyum simpul lantas berkata,” Kamu tahu tidak mengapa ibu memarahi kamu waktu kamu tertidur di kelas?” Hamid hanya menggeleng.

“Kamu tahu tidak mengapa ibu menghukum kamu karena tidak membawa pulpen?” lanjut bu Suharni. Hamid kembali menggeleng.

“Itu semua karena ibu sayang sama Hamid. Ibu tidak mau Hamid ketinggalan pelajaran karena tertidur di kelas. Kamu kan sudah kelas 9, tidak lama lagi akan menghadapi ujian UASBN. Lalu ibu menghukum Hamid karena tidak bawa pulpen supaya besok-besok Hamid jangan lupa lagi membawa pulpen. Ibu ingin supaya Hamid lebih disiplin dalam mempersiapkan alat-alat tulis sebelum berangkat ke sekolah. Kalau semua peralatan belajar dibawa, itu akan memudahkan  Hamid dalam mengikuti pelajaran.” Jelas bu Suharni panjang lebar.

Hamid hanya terpekur mendengar penjelasan bu Suharni. Dalam hatinya membenarkan semua perkataan bu Suharni.

“Baiklah, karena kamu sudah berani mengakui perbuatan kamu, maka ibu maafkan semua kesalahan kamu. Tapi ingat, kamu harus berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” bu Suharni berkata sambil tersenyum. Hamid terkejut mendengar ucapan bu Suharni. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa bu Suharni akan memaafkan kesalahannya dengan begitu mudah.

“Ibu tidak marah?” Tanya Hamid dengan wajah heran.

“Tidak,” jawab bu Suharni sambil menggeleng. Ibu tidak marah karena kamu berani datang kemari mengakui perbuatan kamu, dan ibu yakin kamu tidak akan mengulaninya lagi.”

“Saya berjanji tidak akan mengulaninya lagi bu,” sahut Hamid. “Saya juga berjanji tidak akan tidur di kelas lagi dan akan selalu membawa peralatan belajar.” Lanjutnya.

“Baiklah, ibu terima janji kamu. Sekarang kembali ke kelas ya, lima menit lagi ibu akan menyusul,” ucap bu Suharni. Hamid bergegas bangkit dari kursinya, menyalami bu Suharni lantas keluar dari kantor dewan guru dengan perasaan lega yang teramat sangat. Dia merasa lega karena bu Suharni tidak marah padanya. Dia tidak menyangka ternyata bu Suharni sebenarnya guru yang amat baik dan suka memaafkan kesalahan muridnya. Dia saja yang tidak mengerti bahwa guru menegur dan marah kepada siswanya itu karena guru tersebut peduli dan sayang terhadap siswanya. Hamid tersenyum dan kembali ke kelasnya dengan perasaan riang. Dia berjanji dalam hati tidak akan mengulagi lagi kesalahan serupa di waktu-waktu yang akan datang.

SELESAI

No comments:

Post a Comment