Cerpen : Menggapai Impian - SMPN 12 Lhokseumawe

Breaking

Sunday, October 11, 2020

Cerpen : Menggapai Impian


 

Menggapai Impian

 

Siang itu mentari bersinar demikian terik di kota Lhokseumawe. Teriknya terasa hingga ke ubun-ubun. Kulangkahkan kaki menyusuri pertokoan di pusat kota  mencari kebutuhan anak-anak untuk tahun pelajaran baru. Tiba-tiba mataku terpaku menatap sesosok tubuh kurus tinggi yang sangat kukenal sedang menawarkan dagangannya kepada orang-orang yang berlalu lalang. Penasaran aku mendekatinya sekedar memastikan apakah benar dia orang yang kuduga. Dia tersenyum dan menyapaku lebih dulu.

 “Ibu,…belanja bu?”, tegurnya sambil menyalamiku. Aku mengangguk dan balas menyapanya.

”Wah…dagang disini ya kamu?”. Dia tersenyum dan mengangguk.

” Iya bu, saya jualan sekarang.”

 “Kamu tidak melanjutkan sekolah ?” tanyaku.

 “Enggak bu, tidak ada biaya,” sahutnya sedih. 

Aku termangu mendengar jawabannya. Jawaban yang sangat sering kudengar dari para mantan siswaku yang tidak melanjutkan sekolah. Ada pearasaan sedih, kecewa, marah dan sebagainya bercampur aduk dalam dada. Mengapa orangtuanya tidak berusaha sekuat tenaga untuk menyekolahkan anaknya? Mengapa mereka terlalu pasrah pada nasib? Mengapa tidak ada usaha sedikitpun untuk berjuang melanjutkan sekolah anaknya? Mengapa dan mengapa terus menggelayuti pikiranku. Kebanyakan mereka yang tidak melanjutkan sekolah lagi bukanlah anak-anak yang tidak berprestasi. Malah sering kutemui mantan siswaku yang dulunya tergolong berprestasi tapi ternyata tidak melanjutkan sekolah lagi. Hal ini sunggguh sangat mengecewakanku sebagai seorang guru.

“Apakah kamu masih ada niat untuk melanjutkan sekolah lagi, Arif?” tanyaku lebih lanjut.

“Masih bu,” jawabnya jujur.   Kemudian dia terlihat sibuk mengatur dagangannya dan melayani pembeli yang datang sehingga aku terpaksa menyingkir untuk memudahkannya melakukan pekerjaannya. Selintas memang terlihat sikapnya agak jengah ketika kutanya perihal keadaannya yang tidak melanjutkan sekolah lagi.

“Okelah ibu pamit ya, mau belanja keperluan yang lain. Bila ada waktu main-mainlah kerumah,” ujarku.

“Baik bu. Terimakasih,” sahutnya pelan.

Setibanya di rumah kuletakkan barang-barang belanjaan begitu saja di atas meja di ruang tengah. Aku segera merebahkan diri di atas tempat tidur. Kepalaku terasa agak sedikit pusing mungkin karena cuaca yang sangat panas pada saat belanja tadi.

Sambil memijit-mijit dahi dengan ibu jari aku teringat kembali pertemuan dengan Arif, mantan muridku yang  yang kini menjadi pedagang barang-barang kebutuhan untuk tahun ajaran baru. Apakah dia tidak sedih melihat dagangannya yang terdiri dari buku-buku tulis, pena, pensil dan lan-lain yang nantinya akan digunakan oleh para pelajar untuk belajar di sekolah? Apakah tidak terbetik sebuah keinginan dihatinya untuk menggunakan semua keperluan sekolah itu bagi dirinya sendiri? Aku tidak tahu isi hatinya. Aku tidak bisa menebak apakah dia benar-benar merasa sedih tidak bisa melanjutkan sekolah ataukah justru merasa senang karena terbebas dari rutinitas sekolah yang bagi sebahagian  siswa terasa begitu menjemukan. Aku ingin tahu jawabannya. Pertemuan singkat di pasar tadi tidak bisa menjawab berbagai pertanyaan yang menggelayuti pikiranku. Aku bertekad untuk menjumpainya dua atau tiga hari mendatang. Mudah-mudahan aku segera menemukan jawabannya.

*******

Pagi ini aku terburu-buru berangkat ke sekolah. Seperti biasanya sebelum memulai tugas mengajar aku memantau keadaan kelasku terlebih dahulu berhubung aku diberikan tugas tambahan sebagai wali kelas oleh kepala sekolah.

Ketika aku baru saja tiba di ruang kelas VIII-A, tiba-tiba aku teringat bahwa aku lupa membawa handphoneku yang sedang di charge di ruang makan tadi. Buru-buru aku berbalik arah bermaksud untuk pulang ke rumah mengambil handphone yang tertinggal. Jarak antara rumah dengan tempat tugasku memang terhitung dekat, hanya sekitar 5 menit berjalan kaki. Ketika  akan melewati pintu gerbang sekolah, tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti tepat di depanku. Seorang siswa turun dari boncengan, lalu menyalami si pengendara motor. Seketika aku tersentak kaget ketika melihat wajah si pengendara motor, ternyata Arif mantan siswaku yang kutemui sedang berjualan buku di pasar kota seminggu yang lalu. Arif terlihat berusaha untuk menghindar tapi karena sudah terlanjur mata kami bertatapan akhirnya dia tidak jadi memutar arah motornya.

“Assalamu’alaikum, bu,” tegurnya.

“Wa’alaikumsalam,” sahutku. “Kebetulan sekali kita berjumpa disini, Rif. Ibu baru tahu kalau Dinda adalah adik kamu. Apakah setiap hari kamu yang mengantarkannya ke sekolah?” tanyaku.

“Iya bu,” sahutnya malu-malu.

“Wah, kalau boleh ibu mau minta tolong kamu mengantarkan ibu sebentar pulang ke rumah. Handphone ibu ketinggalan di rumah, ibu khawatir nanti ada telepon penting yang masuk,” ucapku sebelum Arif sempat mengucapkan kata pamit.

“Oh boleh, bu,” sahutnya lagi.

Segera aku duduk di belakang Arif. Aku tak perlu memberitahukan arah rumahku kepadanya karena rata-rata siswa di sekolahku tahu dimana letak rumahku.

“Kamu tunggu sebentar disini ya Rif, ibu masuk dulu ke dalam.” Tanpa menunggu jawabannya aku segera masuk ke dalam rumah. Setelah menemukan benda yang aku cari, akupun segera bergegas keluar. Namun alangkah kagetnya aku ketika kulihat Arif dan motornya sudah raib dari penglihatan.

“Hmm,…dasar si Arif belum berubah, tidak punya sopan santun. Masa pergi begitu saja tanpa pamitan,” gerutuku dalam hati. Terpaksa aku berjalan kaki ke sekolah. Beruntung bel belum berbunyi sehingga aku tidak terlambat. Alangkah malunya bila seorang guru terlambat tiba di sekolah apalagi jarak dari sekolah ke rumahku begitu dekat.

Ketika lonceng istirahat berbunyi, aku mencari Dinda di kelasnya. Kuutarakan maksudku bahwa aku ingin bertandang ke rumahnya sepulang sekolah nanti. Dinda terlihat tak percaya. Dia memandangku dengan tatapan aneh.

“Ibu mau main ke rumah saya?” tanyanya dengan mimik wajah heran.

Iya. Memangnya gak boleh?” aku balik bertanya. Dinda tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya menatapku sambil mengunyah sisa pisang goreng di tangannya.

“Pokoknya nanti kamu tunggu ibu pulang sekolah ya?” ucapku lagi sambil menyentuh bahunya. Dinda hanya menganggukkan kepalanya.

Bubar sekolah kutunggu Dinda di depan kantor dewan guru. Biasanya siswa sering melintas di depan kantor ini bila hendak pulang. Lama kutunggu namun Dinda belum menampakkan batang hidungnya. Tak ingin lebih lama lagi menunggu aku bergegas berjalan kearah kelas Dinda untuk memastikan keberadaannya.

Kelas tersebut terlihat sudah kosong ketika aku melongokkan kepala kedalamnya. Ah…mustahil aku tidak melihat Dinda lewat di depan kantor guru tadi, bisikku dalam hati. Iseng aku memutar langkah melintasi belakang kelasnya. Betapa terperanjatnya aku melihat Dinda sedang menunduk mengutip sampah plastik bekas air mineral yang banyak berserakan di tanah. Reflek aku bersembunyi di balik dinding kelas supaya Dinda tidak melihatku. Aku tidak ingin dia tahu bahwa aku melihat apa yang sedang dia kerjakan saat itu.

Perlahan-lahan aku mundur dan berjalan kembali kearah kantor dewan guru. Hatiku bertanya-tanya untuk apa Dinda mengutip sampah plastik tersebut. Apakah Dinda seorang pemulung? Apakah pekerjaan tersebut dilakukannya dengan suka rela atau ada yang memaksa. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benakku. Kubatalkan niatku pergi ke rumahnya siang ini.

Keesokan harinya aku berangkat ke sekolah lebih cepat dari hari biasanya. Segera aku mencari Dinda di kelasnya. Kulihat Dinda dan beberapa orang temannya sedang menyapu lantai.

“Dinda, selesai menyapu tolong jumpai ibu sebentar di kantor ya,” ucapku.

“Baik, bu,” jawabnya.

Tak lama kemudian Dinda datang menjumpaiku di kantor. Kuperhatikan wajahnya terlihat pucat. Pakaian seragam putih yang dikenakannya pun terlihat kusam. Sepatu hitamnya robek di bagian depan. Sungguh memelas penampilan anak ini, bisikku dalam hati.

“Duduk disini, Dinda,” kataku memecah keheningan.

Dinda duduk di depanku tanpa suara. Aku kembali memperhatikan wajahnya. Selama ini aku sama sekali tidak tahu kalau Dinda adalah adik Arif. Wajah mereka tidak terlalu mirip, Dinda berkulit kuning langsat sedangkan Arif berkulit agak sedikit hitam.

“Kamu sudah sarapan?” tanyaku.

“Belum, bu,” jawabnya jujur.

“Kebetulan ibu bawa bekal sarapan dari rumah. Kita sarapan sama-sama yuk,” ajakku.

“Tidak usah bu, terimakasih,” Dinda menolak ajakanku dengan halus.

“Ayolah, tidak usah malu-malu,” ajakku lagi.

Kusodorkan kotak berisi roti isi kehadapannya. Dinda terlihat ragu, namun perlahan diraihnya juga sepotong roti yang kutawarkan. Lonceng masuk tiba-tiba berbunyi membuat Dinda terkejut dan meletakkan kembali roti isi yang sudah berada di tangannya.

“Tidak apa-apa, Dinda. Makan saja dulu, ibu akan minta ijin dengan guru yang masuk di jam pertama di kelas kamu.”

Bergegas kujumpai bu Murni yang akan mengajar jam pertama di kelas Dinda. Setelah memperoleh ijin aku segera kembali menemui Dinda di ruanganku.

“Ayo, Dinda. Ambil lagi rotinya.”

“Terimakasih, bu. Saya sudah kenyang,” sahutnya.

Kusodorkan segelas air mineral  untuk diminum. Aku tahu Dinda masih lapar, tapi aku juga maklum kalau Dinda merasa malu  mengambil roti lagi.

“Ibu sudah minta ijin pada bu Murni bahwa kamu tidak bisa masuk pada jam beliau. Jadi kamu tenang saja ya, kita bisa berbincang-bincang sebentar disini,” jelasku pada Dinda. Dia hanya mengangguk mengiyakan.

“Oh iya Din. Kemarin sepulang sekolah kamu kok tidak menemui ibu, kan kita sudah janjian mau kerumah kamu?” tanyaku sejurus kemudian. Dinda tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya tertunduk menatap pinggiran meja dihadapannya.

“Dinda?” panggilku.

Dinda mengangkat kepalanya lalu menjawab dengan lirih.

“Saya kemarin pulang sekolahnya agak telat, bu, ada sesuatu yang harus saya kerjakan,” sahutnya perlahan.

“Memangnya kamu mengerjakan apa kemarin?” selidikku.

“Saya mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan bu Santi, bu,” jawabnya tanpa melihat ke arahku.

“Wah kamu memang anak yang rajin, begitu diberikan PR langsung mengerjakannya,” pujiku. Dinda kelihatan salah tingkah mendengar pujianku.

“Memangnya bu Santi kalau ngasih PR banyak-banyak ya sehingga kamu khawatir tidak sempat mengerjakannya di rumah? Berapa butir PR matematika yang diberikan bu Santi kalau ibu boleh tahu?” lanjutku membuat Dinda semakin salah tingkah.

“Mmm…,” Dinda terlihat bingung menjawab pertanyaanku.

“Ntar ibu bisa kasih tahu ke bu Santi lho agar beliau jangan banyak-banyak bila memberikan PR kepada siswa,” kataku semakin membuat Dinda kebingungan.

“Ja…jangan bu, jangan bilang seperti itu kepada bu Santi,” Dinda berkata dengan cepat.

“Lho memangnya kenapa? Kamu gak usah khawatir. Kami sesama guru biasa saling mengingatkan dan tidak ada yang pernah tersinggung karena tujuan kami adalah untuk kemajuan anak didik kami semua,” jelasku panjang lebar meskipun aku tahu Dinda tidak memahami apa yang barusan kukatakan. Aku hanya berusaha agar Dinda menjelaskan apa yang dilakukannya kemarin dengan jujur, tanpa terkesan aku memojokkannya.

“Kemarin kan rencananya ibu mau pergi ke rumah kamu, tapi karena lama ibu tunggu kamu tidak muncul-muncul ya udah  ibu langsung pulang saja. Padahal sebenarnya ibu ada tugas penting yang harus dikerjakan, tapi karena udah janji dengan kamu terpaksa ibu tunda,” jelasku tanpa diminta.

Dinda melihatku dengan tatapan yang aneh. Dia lantas menunduk tidak berani melihat wajahku.

“Saya minta maaf bu,” ucap Dinda.

“Lho kok minta maaf? Memangnya Dinda salah apa?” tanyaku.

“Iya bu, sebenarnya kemarin saya bukan membuat PR di kelas, tapi saya mengutip sampah plastik bekas air mineral di belakang kelas,” sahutnya lirih nyaris tak terdengar.

“Oya?” sahutku pura-pura kaget.

“Untuk apa sampah-sampah plastik itu?” tanyaku.

“Saya kumpulkan untuk dijual ke tempat pengumpulan barang bekas, bu,” Dinda menjawab semakin pelan.

“Keluarga kamu tahu apa yang kamu lakukan?” tanyaku lagi. Dinda menganggukkan kepalanya.

“Benar mereka tahu yang kamu lakukan, Dinda?” ulangku. Dinda tidak menyahut. Dia terlihat hanya menundukkan kepala.

“Ayo jawab pertanyaan ibu,” desakku.

“Orang di rumah tidak ada yang tahu apa yang saya lakukan bu,” jawabnya lirih. Akhirnya keluar juga pengakuan itu dari mulutnya.

“Saya hanya ingin mencari sedikit uang lebih untuk jajan, bu,” lanjut Dinda setelah terdiam beberapa saat.

“Memangnya selama ini tidak ada yang memberi kamu jajan?” selidikku lagi.

Dinda menggelengkan kepalanya.

“Bang Arif? Bukankah dia selama ini bekerja dengan berdagang peralatan sekolah di pasar?” tanyaku lagi.

“Pendapatan bang Arif hanya cukup untuk makan kami sehari-hari ditambah pengobatan ayah,” Dinda menyahut pelan.

Aku menarik nafas perlahan. Ternyata begitu banyak yang belum aku ketahui tentang siswaku. Mungkin ini baru sebahagian kecil tentang kehidupan siswa yang baru aku ketahui. Masih banyak permasalahan-permasalahan lain yang dihadapi oleh siswaku yang mungkin lebih berat dari ini.

“Kalau kamu tidak keberatan siang ini sepulang sekolah ibu ingin pergi ke rumah kamu. Ibu harap pulang sekolah nanti kamu tidak usah mengutip plastik bekas air mineral dulu, nanti ibu akan berikan uang jajan untuk besok ya?” pintaku pada Dinda. Dinda hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan.

“Janji ya Dinda? Ibu tunggu kamu nanti pulang sekolah,” tegasku lagi. Dinda kembali menganggukkan kepalanya lantas pamit keluar mengikuti pelajaran yang sempat tertunda.

Ketika lonceng pulang berbunyi aku berdiri di depan kantor guru menunggu Dinda. Tak lama Dinda terlihat berjalan ke arah tempatku berdiri. Sambil tersenyum aku melambaikan tangan mengajaknya mendekat.

“Kita pulang ke rumah kamu ya sekarang Din,” tegurku. Dinda hanya menganggukkan kepalanya.

“Ibu sengaja bawa motor hari ini karena mau pergi ke rumah kamu,” lanjutku lagi.

Setelah kupastikan Dinda aman duduk di belakangku, motor kujalankan perlahan. Dinda menjadi penunjuk jalan kearah rumahnya. Sekitar 10 menit kemudian kamipun tiba di rumahnya.

Hatiku tercekat melihat kondisi rumahnya. Rumah ini tidak layak huni, sungguh sangat memprihatinkan kondisinya. Lantainya hanya beralaskan tanah yang sudah mengeras dan ditutupi selembar karpet yang terlihat koyak di sana sini. Atap rumahnya dari pelepah daun rumbia. Dinding rumah terbuat dari tepas atau kulit bambu dan banyak yang sudah rusak. Begitu memasuki rumahnya langsung tercium aroma kurang sedap, mungkin hal ini disebabkan karena banyaknya barang-barang yang berserakan di dalam rumah, ditambah lagi aroma lembab dari lantai tanah tersebut.

Tiba-tiba mataku terpaku melihat sesosok laki-laki yang terbaring di atas ranjang usang di sudut ruang depan. Seorang laki-laki tua tidur diatas ranjang itu berselimutkan kain lusuh.

“Itu ayah kamu, Din?” tanyaku padanya. Dinda mengangguk mengiyakan. Tiba-tiba laki-laki tua itu terbangun, mungkin mendengar kedatangan kami.

“Dindaa… kamu sudah pulang sekolah?” laki-laki tersebut berusaha bangkit dari tidurnya. Dinda segera datang menghampiri.

“Iya pak, saya sudah pulang,” jawabnya sambil membantu ayahnya duduk dan membetulkan letak selimut yang hampir jatuh melorot ke lantai. Laki-laki tua itu belum menyadari kehadiranku di rumahnya.

“Pak, saya pulang bersama bu guru,” ucap Dinda lirih. Ayah Dinda nampak terkejut sambil menoleh kearahku yang berdiri terpaku berjarak sekitar 3 meter dari tempatnya berbaring. Buru-buru aku berjalan kearahnya.

“Assalamualaikum pak,” tegurku sambil menjulurkan tangan mengajak bersalaman.

“Waalaikumsalam,” sahut laki-laki tersebut.

“Saya gurunya Dinda, pak, ingin menjenguk bapak yang kabarnya sedang sakit,” kataku mencari alasan. Laki-laki tua tersebut kelihatan bingung lalu menoleh ke arah Dinda. Dinda mengangguk mengiyakan ucapanku tadi.

“Selain itu saya juga ingin bertemu dengan Arif pak,” timpalku lagi. “Sekitar seminggu yang lalu saya bertemu dengannya di pasar kota. Dia sedang berdagang alat tulis sekolah. Sewaktu saya bertanya apakah dia menyambung sekolah dia menjawab tidak, makanya saya kemari ingin bertemu dengannya. Siapa tahu nanti dia mau sekolah lagi setelah mendengar saran dari saya,” ucapku panjang lebar. Ayah Dinda hanya manggut-manggut mendengar penjelasanku.

“Sudah dua tahun belakangan ini saya menderita sakit, bu,” ucapnya sambil terbatuk-batuk. “Saya tidak bisa mencari rezeki sehingga Arif terpaksa menggantikan tugas saya mencari uang untuk membiayai kebutuhan kami sehari-hari ditambah lagi dengan biaya pengobatan saya, “ lanjutnya lagi sambil kembali terbatuk-batuk.

“Memangnya bapak sakit apa, pak?” tanyaku prihatin.

“Kata dokter saya menderita radang paru-paru,” jawabnya terbata-bata sambil memegangi dadanya. Tentu nyeri sekali, bisikku dalam hati.

“Saya hanya bisa berbaring seperti ini setiap hari,” lanjutnya lagi. “Arif yang keluar mencari uang, sedangkan Dinda mengerjakan semua pekerjaan rumah sebelum dan sepulang sekolah. Seandainya ibunya masih hidup, tentu Dinda tidak perlu mengerjakan semua pekerjaan itu sendirian.” Kembali terdengar suara batuk diujung ucapannya.

Hatiku terasa mencelos mendengar penuturan ayah Dinda. Dinda dengan usianya yang masih sangat belia harus mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga selayaknya seorang wanita dewasa. Pantaslah penampilannya begitu menyedihkan. Semua keperluan sekolahnya dia urus sendiri. Sering aku mendapati baju seragamnya kusut tidak disetrika. Pasti dia tidak sempat menyetrikanya karena begitu banyaknya pekerjaan rumah tangga yang harus dia selesaikan ditambah lagi harus menyelesaikan tugas-tugas sekolah. Aku menyesal mengapa selama ini kurang peka terhadap problema yang dihadapi para siswaku. Bila siswaku tidak mengerjakan tugas yang kuberikan, tak jarang aku memberinya hukuman tanpa bertanya terlebih dahulu apa penyebabnya. Sekarang aku baru sadar setelah melihat kehidupan Dinda. Tentu lebih banyak lagi siswaku yang bernasib sama bahkan mungkin lebih parah dari Dinda. Aku menghela nafas yang tiba-tiba terasa sesak.

Suara ketukan di pintu diiringi ucapan salam menyentakkan lamunanku. Terlihat sesosok tubuh jangkung berdiri di ambang pintu. Arif terkejut melihat kehadiranku di rumahnya. Setelah menyalamiku dia langsung menghilang ke dalam kamar. Aku dan Dinda saling berpandangan. Aku merasa Arif tidak senang melihat kedatanganku, tapi aku terlanjur sudah berada di sini dan rencanaku harus berhasil.

Kusuruh Dinda mengatur buah jeruk yang sengaja kubawa tadi ke dalam piring plastik yang ada di dekat ranjang. Dengan bahasa isyarat ku suruh Dinda memanggil Arif ke dalam kamar. Tak lama kemudian Arif pun muncul dengan wajah agak cemberut.

“Sini Rif,” panggilku. “Tolong kupaskan jeruk satu untuk ayahmu, mungkin beliau ingin memakannya,” dalihku supaya aku punya kesempatan untuk berbincang dengannya.

 Dengan gerak malas-malasan Arif mengupaskan jeruk untuk ayahnya lalu menyuapinya ke mulut sang ayah.

“Saya ke dapur dulu ya bu, mau memasak nasi,” ucap Dinda seraya berjalan ke arah dapur. Aku hanya menganggukkan kepala. Setelah Arif selesai menyuapkan jeruk untuk ayahnya, aku pun berdiri hendak pamit pulang.

“Saya pamit dulu, pak,” ucapku.

“Ya bu, terimakasih atas kunjungannya. Maaf kami tidak bisa menyuguhkan apa-apa,” sahutnya nyaris tak terdengar. Lantas laki-laki tua itu kembali terbatuk-batuk.

“Ibu pulang dulu ya Rif, tapi sebelum pulang ibu ingin berbicara dulu dengan kamu sebentar,” ucapku pada Arif seraya berjalan ke arah pintu depan. Arif berjalan mengikutiku. Sesampainya di luar aku duduk diatas kursi rotan panjang yang ada di situ.

“Sini Rif, duduk di sebelah ibu,” ujarku. Lagi-lagi Arif menuruti perintahku. Dia duduk di sebelahku sambil menunduk.

“Ibu sengaja datang ke rumah kamu ingin menemui kamu. Ibu ingin kamu melanjutkan sekolah seperti teman-teman kamu yang lain,” akhirnya aku punya kesempatan untuk menyampaikan maksud kedatanganku. Arif mengangkat wajahnya yang menunduk sedari tadi. Dia menatapku dengan pandangan yang aneh.

“Kenapa kamu menatap ibu seperti itu, Rif? Apa ada yang salah dengan ucapan ibu?” tanyaku melihat reaksinya.

“Kamu kelihatan tidak senang ibu menyuruh kamu melanjutkan sekolah lagi. Padahal maksud ibu baik, demi masa depan kamu nanti. Zaman sekarang apa artinya ijazah SMP? Kalau kamu melanjutkan sekolah, setidaknya kamu akan memiliki ijazah yang lebih tinggi, bahkan siapa tahu nanti kamu bisa melanjutkan lagi ke tingkat yang lebih tinggi, kuliah misalnya,” jelasku panjang lebar.

Kulihat ada senyuman sinis tersungging di sudut bibirnya. Arif menolehkan wajahnya ke samping, seakan tidak memperdulikan ucapanku.

“Rif, “ kusentuh lengannya. Dia menoleh kearahku. Dari binar matanya bisa kulihat ada rasa kecewa, sedih bercampur kesal.

“Ibu tahu sebenarnya kamu sangat ingin melanjutkan sekolah. Ibu kenal siapa kamu. Kamu bukan siswa yang malas. Kamu siswa yang rajin dan pintar. Kamu selalu masuk rangking lima besar di kelas,” ucapku sambil menatap matanya.

Arif terpana mendengar kata-kataku, matanya mulai berkaca-kaca. Nampaknya dia mulai tersentuh dengan kata-kataku.

“Tapi saya tidak punya biaya, bu. Untuk makan sehari-hari saja susah apalagi untuk biaya masuk sekolah. Saya harus bekerja untuk membiayai kehidupan kami. Saya juga harus membiayai sekolah Dinda, saya tidak mau dia putus sekolah seperti saya,” Arif berkata setengah berbisik.

“Bagus kalau kamu punya pemikiran seperti itu. Tapi kamu juga harus memikirkan masa depanmu selain masa depan Dinda. Kamu juga harus bersekolah seperti Dinda,” ucapku.

“Tapi siapa yang akan mencari uang kalau saya tidak bekerja, bu? Siapa yang akan membiayai sekolah Dinda dan makan kami sehari-hari?” Alif berkata dengan gusar.

“Itulah yang ingin ibu rembukkan dengan kamu, Rif,” ucapku dengan sabar.

 “Ibu ingin kamu melanjutkan sekolah sambil bekerja, kamu tetap bisa mencari uang dan sekolah juga jalan,” lanjutku lagi.

Arif menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tidak mungkin, bu. Saya harus berjualan dari pagi hingga petang. Barang-barang dagangan itu bukan milik saya, tapi milik orang lain yang saya jual lagi. Saya juga dipinjami motor agar saya mudah mengangkut barang dagangan saya. Saya berjualan dari pagi sampai sore, mana bisa saya bersekolah,” Arif berkata dengan nada putus asa.

“Ibu akan memberikan jalan supaya semua bisa berjalan dengan baik. Apa kamu mau mendengar saran dari ibu?” tanyaku. Arif terlihat berfikir sejenak, lalu perlahan  menganggukkan kepalanya.

“Begini, ibu punya toko pakaian anak-anak di pasar kota. Ibu sudah punya 2 orang pegawai untuk menjaga toko tapi salah seorang dari mereka hanya bisa menjaga toko sampai siang hari. Nah bagaimana kalau kamu menjaga toko sepulang dari sekolah sekalian tidur di toko itu. Penjaga toko yang lama sudah berhenti karena orang tuanya meninggal di kampung. Kamu bisa tinggal di toko dan pagi-pagi kamu bisa pulang ke rumah, kamu boleh menggunakan motor yang biasa dipakai karyawan ibu yang lama,” ucapku panjang lebar.

Arif kelihatan tertarik dengan tawaranku, hal itu bisa dilihat dari bahasa tubuhnya yang mulai duduk tegak dan dengan antusias mendengar ucapanku.

“Bagaimana, Rif? Kamu mau?” tanyaku.

“Bagaimana dengan biaya masuk sekolah bu? Saya juga belum punya seragam apapun. Pendaftaran juga sudah lama tutup, sekolah sudah aktif sejak sebulan yang lalu. Apakah saya masih bisa diterima?” Arif terlihat mulai ragu.

“Kalau masalah itu kamu tidak perlu khawatir, ibu sudah hubungi kepala sekolahnya, kebetulan teman baik ibu. Ibu sudah ceritakan pada beliau dan beliau bisa memaklumi kesulitan kamu. Kamu tidak usah memikirkan masalah  biaya pendaftaran, semua digratiskan untuk kamu. Pakaian seragam akan ibu usahakan untuk kamu walau baru sepasang yang penting kamu sudah bisa sekolah. Demikian juga dengan peralatan sekolah, semua sudah ada berkat sumbangan dari dewan guru SMP P

elita Hati. Sekarang yang paling penting dari semua itu adalah apakah kamu berniat untuk melanjutkan sekolah?” aku mengakhiri kalimat panjangku dengan sebuah pertanyaan.

Wajah Arif terlihat berseri-seri, sangat berbeda dengan keadaan sewaktu dia baru tiba di rumah beberapa saat yang lalu. 

“Saya bersedia melanjutkan sekolah lagi, bu,” akhirnya ucapan yang sangat kuinginkan itu keluar juga dari mulutnya.

“Ibu senang sekali mendengarnya, Rif. Mulai besok kamu sudah bisa siap-siap ya. Jangan lupa kamu pamit sama orang yang sudah memberikan kamu pekerjaan berjualan selama ini,” ucapku pada Arif.

“Iya, bu,” sahutnya bersemangat.

“Baiklah kalau begitu, ibu pamit dulu ya. Besok ibu tunggu kamu di sekolah ibu, kita pergi sama-sama menemui bapak kepala sekolah SMK Perjuangan, oke?” ujarku lagi.

“Terimakasih banyak, bu. Ibu sudah begitu baik kepada saya,” ucapnya tersendat.

“Berterimakasihlah kepada Allah, karena beliaulah yang membuka pintu hati para guru untuk membantu kamu, ibu hanya membuka jalan saja,” tukasku merendah.

“Ya bu, besok saya akan ke sekolah menyampaikan rasa terimakasih sekaligus mengambil ijazah dan raport,” pukasnya.

“Oke, ibu tunggu. Ibu pulang ya, assalamualaikum,” pamitku.

“Wa’alaikumsalam,” sahutnya.

Aku melangkah menuju motor yang diparkir di halaman rumahnya. Lega rasanya hatiku. Rasa sedih yang selama seminggu lebih menggayuti hati telah sirna. Selalu ada harapan di akhir sebuah usaha. Harapan indah akan hadirnya sebuah masa depan baru, merubah kepahitan menjadi kebahagiaan. Semoga terwujud…

 

 

Selesai

 


No comments:

Post a Comment